Skip to main content
Wayang Kulit Kebudayaan Indonesia

Anti Budaya Luar Ialah Sebuah Kesia-siaan

Sudah lama sebenarnya isu tentang hal ini. Cukup lama juga aku menahan untuk tidak menuliskannya. Tetapi setelah menahun, ternyata isu anti budaya yang digulirkan salah satunya oleh ibu partai PDI ini diamini oleh banyak tokoh masyarakat dan masih saja menjadi pemikiran yang benar bagi sebagian orang.

Jujur saja masih agak bingung dari mana asalnya, sebab bagaimana mau anti, lah angka kita adalah angka Arab, bahkan sejarah kita ialah Bahasa Arab. Ya, maksudku! Kata “sejarah” merupakan serapan dari bahasa arab, yakni “syajarotun” yang berarti “pohon kayu”! Jadi secara harfiah kita enggak punya sejarah! Aku bahkan ragu kalau bisa menuliskan sebuah artikel tanpa satupun kata serapan dari asing.

Berbicara mengenai bahasa, kenapa tulisan kita berakhir pada alfabet? Nah ini adalah contoh bahwa kita tidak bisa anti terhadap budaya luar. Sebelum tulisan alfabet sebenarnya sebagian besar masyarakat di Indoensia lebih akrab dengan tulisan Arab Pegon, ini digunakan hampir seluruh orang melayu, termasuk jawa, sumatera dan sulawesi.

Pasti ada yang berfikir, kalau gitu kita harus kembalikan budaya asli Indonesia dengan tulisan aksara nusantara-nya,  yakin?  Tapi khan tulisan aksara nusantara ini merupakan perpaduan dari tulisan India dan Arab. Jadi kalau mau yang asli, pure Indoensia banget, kita nggak bisa nulis! Ups… Atau jangan-jangan emang bener ini yang menjadi alasan kenapa bangsa kita jarang menulis? XD

 

Budaya Indonesia vs Budaya Asing

Jadi apakah dibiarkan saja kalau budaya Indonesia terkikis oleh budaya asing? Apa kita nggak sayang dengan budaya Indoensia. Nah… Pertanyaan ini yang menurutku cukup menarik, karena ide utama orang-orang yang mengatakan anti budaya luar ialah bertujuan agar budaya Indonesia tidak hilang.

Kalau secara pribadi, aku tidak terlalu khawatir kalau budaya asli Indoenesia itu hilang. Yap! Aku sendiri bukan tipikal orang yang maunya ‘Indonesia bangeeeet”. Buatku kalau budaya Indonesia ilang, itu seperti hilangnya satu spesies dari muka bumi, akan tergantikan oleh spesies lain yang lebih kuat. XD

Oh iya, tapi mungkin banyak dari kalian yang begitu cinta pada budaya Indoensia dan aku hargai itu sebagai sebuah perbedaan cara pandang. Bagaimanapun budaya luar akan masuk ke Indonesia, seperti yang sudah ku sebutkan, budaya Arab, India dan China itu sudah masuk ke Indonesia dan menjadi bagian dari budaya lokal masayarakat. Sudah menyatu sampai level dasar. Ibarat ilmu kimia ini sudah level quantum-nya menyatu, kalau dipisahin bakalan meledak!

Ok back to the topic! Jadi gini, di masa depan nanti kita akan terwarnai oleh budaya Arab, Cina, ataupun negara-negara barat, mau tidak mau, suka tidak suka, titik. Bersikap anti terhadap budaya yang masuk ialah sebuah kebodohan, karena kita hidup di era globalisasi sehingga interaksi dengan dunia luar tak akan terhindarkan lagi.

Kalau mau budaya Indonesia itu tidak hilang ataupun terhapuskan, maka ajarkanlah budaya Indoensia! Gunakan blankon di keseharian, sarung setiap malam dan batik setiap mau ke kampus. Tiru Korea, Jepang ataupun China yang menggunakan film kolosal sebagai media untuk menghidupkan budaya lokalnya.

Jangan malah kontra-produktif dengan menuliskan atau men-share artikel, opini ataupun video anti budaya Arab, Cina ataupun barat, ini kebodohan! Kalian hanya akan buang-buang waktu untuk berdebat dan ajaran budaya Indonesia tetap tidak akan tersampaikan.

Melirik ke negeri sakura, di sini berpenampilan kebarat-baratan dengan rok mini, pirang, dan tindik di hidung bukanlah sesuatu yang dikecam ataupun dikucilkan. Mereka biasa aja dengan budaya luar yang telah masuk ke Jepang ini.

Tetapi ketika festival kembang api, festival musim semi, dan momen-momen mengunjungi kuil ataupun tempat wisata sejarah, banyak yang memilih untuk mengenakan pakaian daerahnya. Hingga sekarang bukanlah hal yang aneh melihat cewek-cewek dengan sandal rempong dari kayu (bakiak) dan baju berlapis-lapis dengan ikatan pita di pinggang yang besarnya seperti conveyor belt melintas di tempat-tempat wisata ataupun ketika festival kembang api.

Budaya Jepang masih bisa dirasakan hingga sekarang, salah satunya bukan karena sikap anti budaya luar-nya tetapi lebih karena promosi besar-besaran budaya lokalnya sehingga masyarakatnya dengan banggaanya menunjukkan budaya tersebut.

 

Akulturasi Budaya

Ada nggak yang bisa menyebutkan bangsa yang besar karena anti terhadap budaya luar? Atau setidaknya bangsa yang mencapai puncak kejayaan tanpa ada pengaruh budaya luar?

Aku sendiri tidak bisa menyebutkan. Tapi kalau yang sebaliknya, bangsa-bangsa yang besar karena menerima budaya luar aku bisa menyebutkan lebih dari tiga.

Masa keemasan islam yang berasal dari tanah arab begitu gemilang dan masih diingat hingga sekarang. Salah satu hal yang mendorong era keemasan islam ialah masuknya kebudayaan dan pemikiran dari Yunani. Pada masa itu para cendikiawan berusaha dengan keras menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam Bahasa Arab, ini kemudian mendorong perkembangan pola pikir masyarakatnya sehingga mencapai era keemasan.

Setelah Arab, negara barat kemudian mengambil alih ilmu-ilmu alam, mereka menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab karangan para cendikiawan muslim dan menyebarkannya sebagai bahan bacaan masyarakatnya. Dari masuknya budaya arab ke dunia barat ini, kemudian muncul pop culture baik dari film, musik hingga seni lukis. Semua berkembang dan saling berkaitan.

Di sisi lain, Jepang pada awalnya menutup akses kebudayaan lain untuk masuk, ini berlaku hingga ratusan tahun dimana buku-buku asing yang bisa masuk ke Jepang dibatasi dan orang yang memutuskan keluar dari Jepang diposisikan sebagai kriminal dan penghianat.

Hasil dari tertutupnya akses ke kebudayaan luar ialah bom Hiroshima Nagasaki, mereka terlambat menyadari perkembangan sains. Tapi akhirnya setelah perang dunia ke dua mereka membuka akses ke dunia barat, bahkan saat itu pengaruh Amerika masuk dengan sangat bebasnya.

Nah.. Selanjutnya ialah hal yang menarik buatku, yakni momen dimana generasi berhasil menemukan hal baru dari benturan dua budaya. Generasi abad 19 Jepang bisa membuat sejarah dengan pop culture yang berkembang hingga saat ini. Film Godzila-Ultraman, Manga, Anime dan Cosplay ialah pop culture di Jepang paska bom Hirosima-Nagasaki. Inilah contoh-contoh yang aku sebut spesies baru akan bangkit.

Jepang telah membuka aksesnya ke dunia luar, tetapi China masih anti barat. Al-hasil alih-alih menjadi bangsa yang kuat mereka menjadi bahan olok-olok barat dan disebut “Orang Sakit Asia”. Kemudian China membuka akses ilmu pengetahuan dari barat tetapi karena tertinggal cukup jauh dan masalah perbedaan aksara mereka, maka pembelajaran ilmu-ilmu asing ini didatangkan dari Jepang yang telah mengupgrade huruf kanji-nya.

Kini kita bisa melihat betapa maju-nya China. Walaupun China menutup akses Google di negaranya. Tapi jangan salah, budaya asing di China tetap hidup dan berkembang di kalangan anak muda.

Saat ini anak muda China mengenal Stand Up Comedy, musik Rap dan banyak budaya pop culture Amerika. Ini hasil dari kembalinya orang-orang China dari luar negeri dan bacaan-bacaan budayanya.

Di Indonesia nampaknya akulturasi budaya sudah terjadi ratusan tahun silam. Salah satu produk budaya yang mengalami akulturasi ialah wayang kulit. Wayang kulit ini merupakan kebudayaan asli dari Indonesia khususnya tanah Jawa.

Kemudian budaya ini digunakan sebagai sarana untuk menceritakan kisah-kisah agama Hindu yang dibawa dari India, setelah datangnya Islam, lagi-lagi terjadi sedikit perubahan dimana karakter dan kisah perwayangan disisipi nilai-nilai Islam. Artinya dua kali datang budaya asing, dan wayang kulit tetap eksis!

Tapi sekarang budaya wayang kulit ini semakin tidak akrab dijumpai, dulu waktu aku kecil masih ada stasiun televisi yang menyiarkan pagelaran wayang kulit, tapi sekarang sepertinya nol besar. Nanti ketika wayang kulit sudah enggak ada lagi, jangan bilang kalau teralihkan oleh budaya arab. :3

 

Ya Budaya Indonesia Akan Hilang!

Budaya Indonesia akan hilang! Bukan karena tergusur oleh budaya Arab, China ataupun asing, tetapi karena tidak kita hidupkan. Oh ya sepertinya aku lupa menyebutkan: salah satu sebab kenapa kebudayaan-kebudayaan negara maju mampu bertahan, ialah melalui tulisan, film dan produk budaya lainnya. Jadi bukan hanya mengatakan “Yaiyalah, masyarakatnya sadar dan bangga akan budayanya”, tetapi juga karena budaya mereka tersebut dipopulerkan.

Budaya Indoenesia akan lenyap jika saja jumlah penulis di Indonesia terus berkurang, penulis skenario lupa memasukkan muatan adat dan budaya dalam naskahnya dan penyanyi-penyanyi berteriak “Cinta Indonesia” sementara pakaiannya sama sekali nggak etis dalam pandangan norma yang berlaku di Indoensia.

Well.. Jadi buat kalian yang pengen “Indoensia Bangeeet” dan mau berjuang mempopulerkan Budaya Indonesia, mulailah menulis, berkarya, atau seenggak-nya menggunakan pakaian yang menunjukkan identitas budaya kita. Tak perlu lagi share tulisan anti budaya, lebih bagus share video promosi budaya Indonesia.

 

Thanks For reading!

Ref:

https://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Nusantara

http://yja.me/wayangkulit/

Saigo No Sora

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

6 thoughts to “Anti Budaya Luar Ialah Sebuah Kesia-siaan”

    1. Kalau di Yaman,orang pakai sarung itu kaya orang mau tidur.jadi,terlihat kurang sopan…
      Tapi,ini Indonesia bung,budaya yg masuk harus dipilah,maka dari itu ayo kita memilah yg baik dan buruk

  1. kereeenn…that`s right. orang yang menggugat banyak “budaya arab” masuk keindonesia tanpa sadar mereka menafikan banyaknya budaya barat yang meracuni anak – anak muda di Indonesia. parahnya lagi yang mengkritik itu, namanya sendiri pake bahasa arab XD

    klo saranku sih, ditambah dengan data2 ilmiah penjelasan ente. misal tentang sebelum kenal alphabet, menggunakan arab pegon dll. sehingga ndak sekedar tulisan namun akan semakin kuat dengan data ilmiah

    good job!

    1. Itu di bagian bawah udah aku kasih referensinya Pak De, cuma dari wiki sih. Kalau harus menelusuri literaturnya satu persatu lagi ane yah enggak sempat lagi nulisnya.. Ahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *