Lama banget nggak nulis! Akhirnya aku kembali lagi ke blog ini!

Yapz. Walaupun sepertinya nggak harus, tapi rasanya nggak enak aja kalau nggak ngasih alasan kenapa sampai beberapa bulan blog ini menjadi kosong dan terbengkalai. Jadi awalnya aku disibukkan dengan penyelesaian thesis untuk S2. Selanjutnya aku pulang ke Indoensia, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di sana, termasuk kerja bakti di Kampung, bantuin acara pernikahan kakakku, ke Jogjakarta untuk sebuah project kecil, dan memang dimalam harinya aku cuma habiskan untuk mengobrol dan bertemu teman-teman di Berau.

Setelah dari Indonesia, aku kembali lagi ke Jepang dan dua minggu yang lalu kedua orang tuaku datang dan kuajak berkeliling. Dari mereka-lah judul tulisan ini muncul.

Betapa Ndeso-nya Negara Jepang
Betapa Ndeso-nya Negara Jepang

Awalnya, ketika mengajak kedua orang tuaku, kupikir komentar pertamanya aialah tetang “betapa maju-nya Jepang”. Alih-alih membahas tentang teknologi yang telah berkembang sedemikian jauh, komentar Ayahku pertama kalinya ialah:

“Buseet Ini sih kampung banget! Ini bangunannya mirip-mirip yang di kampungku puluhan tahun silam, tiang kayu besar “

Itu komentar pertamanya ketika aku ajak ke Kuil Kiyomizu Dera di Kyoto dan kuil-kuil lainnya disekitarnya. Aku tidak terlalu terkejut mendengarnya, terutama karena itu muncul dari mulut abahku yang perspektifnya seringkali berbeda.

Dari situlah ide awal tulisan ini aku buat.

 

Bangunan Kayu Masih Dipertahankan

Yap! Di Jepang, bangunan-bangunan kayu itu masih dipertahankan. Aku sengaja menggunakan kata “dipertahankan” bukan “bertahan” dengan alasan yang jelas bahwa memang ada usaha-usaha yang dilakukan pemerintah dan masyarakat Jepang untuk membuat bangunan-bangunan kayu tersebut bertahan.

Dibandingkan dengan yang terjadi di Indonesia, bangunan-bangunan kayu dianggap ‘kampungan’ dan diganti dengan bangunan beton yang megah. Menurutku ini bukan masalah, yang menjadi masalah ialah ketika yang dianggap kampungan ini ialah situs-situs bersejarah.

Menurut bapakku, di Jawa pada masa dia kecil, bangunan dengan kayu jati berukuran besar sebagai tiang penyangga itu sangat banyak. Bahkan rumah Mbah Kakung aku dulunya juga punya tiang penyangga besar dari kayu jati. Tetapi ketika kayu mulai berkerut (karena terkena panas dan lembab udara), kemudian dianggap jelek dan dihaluskan lagi. Akibatnya dalam waktu yang relatif singkat, tiang besar ini telah terkikis menjadi batang yang kecil dan tidak kokoh, siap digantikan dengan tiang beton.

Di Jepang mereka memperlakukannya dengan cara berbeda. Tiang-tiang kayu yang tua dan berkerut ini dibiarkan, bahkan ketika keropos akan dipugar dengan teknik khusus agar kembali ke bentuk awalnya yang kuno. Di beberapa sisi kayu ditambahkan penyangga dari besi yang diwarnai hitam dan letaknya tersembunyi, tujuannya agar tidak menghilangkan kesan kuno-nya.

Hampir semua kuil dan bangunan bersejarah di Jepang didominasi oleh bahan kayu yang berukuran raksasa. Ini tentu saja bukan kayu aslinya yang ribuan tahun silam, tetapi dipugar dengan teknik tertentu untuk mempertahankan sejarah dan kesan antiknya.

Cerita lainnya di Kalimantan, khususnya tempatku wilayah Berau, terdapat dua tempat bersejarah (yang masih bertahan). Pertama ialah Keraton Sambaliung dan yang kedua ialah Keraton Gunung Tabur. Mendengar nama “Keraton” hampir semua akan punya ekspektasi (angan2) bahwa bangunannya terbuat dari kayu dan berwarna cokelat tua atau hitam. Kenyataanya, kedua tempat tersebut tidak ada yang berwarna hitam, Keraton Gunung Tabur berwarna Kuning (sebelumnya di cat putih) dan Keraton Sambaliung berwarna Hijau Kuning.

Keraton sambaliung di Berau, Kalimantan Timur
Keraton sambaliung di Berau, Kalimantan Timur

Kalau ditanya apakah bagus? Well.. Not so bad… Tapi aku yakin kalau warnanya dikembalikan ke aslinya dan dirawat dengan baik, kesan sejarahnya pasti akan melekat lebih dalam.

Tentu saja ini bukan hanya karena kurangnya perhatian pemerintah dan masyarakat, sebagai bangsa yang terjajah 3.5 abad + 3.5 tahun, keraton yang merupakan simbol perlawanan rakyat tentu saja diabaikan dan dihancurkan oleh penjajah. Nah … Yang seharusnya menjadi perhatian ialah pemugaran keraton-keraton ini dan pengembalian ke bentuk aslinya (sebelum diobrak-abrik oleh Belanda).

Selain dari keraton, berkaca pada apa yang terjadi di Berau, dahulunya ada bangunan-bangunan milik Belanda yang sangat antik dan bernilai sejarah. Ini bukan hanya satu atau dua bangunan melainkan satu komplek perumahan. Alih-alih menjadikannya aset wisata daerah, seluruh bangunan ini dianggap lusuh dan dibongkar habis tanpa pemugaran ataupun penggantian dengan bangunan baru. Tanahnya dibagi pejabat setempat dan sekarang sudah menjadi pemukiman penduduk. Well. That’s how we do things in Indonesia.

Apakah mungkin mengemalikan bangunan-bangunan kuno ini? Ohh.. Jelas mungkin, ilmunya masih ada (berdasarkan buku kuno dan foto lama), tapi biayanya sekali lagi perlu disisihkan dari jatah korupsi banyak pejabat tentunya. 😛

 

Banyaknya Jajanan Ndeso

Hal lainnya yang membuat bapakku keheranan di Jepang ialah banyaknya jajanan ndeso!

Salah satu jajanan yang mendominasi supermarket dan tempat oleh-oleh di Jepang ialah makanan ‘Senbei’. Makanan ini kalau dibahasa Inggriskan ialah “Rice Crackers” atau dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan “Kerupuk Beras”.

Yap jajanan ini populernya udah tingkat ekstrim banget. Bapakku sampai bilang lah ini opak-opak (kerupuk2) yang sudah nggak diproduksi di Jawa malahan ada disini.

Ketika makan kibi danggo yang ada bubuk kedelai-nya, bapakku langsung bilang “Ini rasanya mirip banget dengan Ketan Kedele, panganan wong ndesso!”. Sementara di Jawa sendiri sudah sangat jarang kita jumpai bubuk kedelai. XD

Di sini, orang-orang lokal sangat bangga dengan makanan daerahnya. Jika ada kesempatan jalan-jalan ke pelosok desa sekalipun, berbicara dengan orang setempat pasti akan diberitahu “Oh.. Ini senbei lokal paling terkenal”, “Oh.. Ini kue danggo paling terkenal”, “Oh.. Ini selai jeruk produksi lokal sini”. Berbeda sekali dengan ketika di Berau, tempatku yang ketika ditanya responnya “Disini makanannya gitu-gitu aja”, padahal ada abon ikan produksi lokal, ada kueh sarang semut dan udang kering produksi lokal yang enak.

Well.. Disamping dari kebanggaan masyarakatnya terhadap makanan lokal, hal yang menyebabkan hilangnya panganan tradisional ialah karena tidak berkembangnya baik teknik produksi maupun pemasarannya.

Ketika aku ke Jawa (tempat Mbah Kakung), makanan sejenis Cenil, Lemper, Wajik, Getuk Lindri, Hingga Putu Ayu masih dijual di pinggir-pinggir jalan. Tetapi masih sangat tradisional dan memprihatinkan, aku bahkan tidak jadi membelinya. Cenil yang sejatinya sangat mirip dengan danggo Jepang itu nggak jadi aku beli karena tampilannya sangat tidak menarik (cenderung auwwwh banget). Seandainya jajanan kampung ini dikemas ulang dengan cara yang menarik, harusnya kita tidak perlu khawatir kehilangan jajanan lokal ini, dan bisa menjadi produk andalan masyarakat lokal.

Selain dari teknik penyajian (tampilan), salah satu yang tidak pernah berkembang juga ialah cara produksinya. Cara produksi makanan daerah yang masih terlalu tradisional menyebabkan banyak orang menghindarinya. Produsen menghindarinya karena membutuhkan tenaga banyak untuk membuatnya, dan konsumen menghindarinya karena seringkali kurang bersih.

Kalau kalian pernah masuk ke pabrik pembuatan tahu ataupun tempe di Indonesia, mungkin kalian akan berhenti makan tempe atau tahu untuk beberapa saat. Di Jepang sendiri sudah ada pabrik tempe yang standard kebersihannya sudah sangat tinggi.

Artinya jika kita tidak memikirkan peningkatan mutu panganan lokal, maka negara tetangga akan mengambil alih bisnis ini dan menjualnya di Indonesia. Khan nggak lucu banget kalau suatu saat kita impor Cenil, Gethuk Lindri ataupun Tempeh dari Jepang? XD

 

Well.. Selain dari dua hal yang aku sebutkan, sebenarnya masih banyak hal Ndeso di Jepang, seperti adanya Kendama (mainan tradisional Jepang), populernya pakaian tradisional Jepang, dan masih adanya pabrik kecap asin yang sangat tradisional (Ndeso puooool!).

Tulisan ini bertujuan untuk melihat Negri Sakura dari kacamata yang berbeda. Semoga membuka wawasan dan mampu menginspirasi pembaca. Thanks!