Skip to main content
Cara Membuat Yodium

Biografi Unsur Yodium

Apa dari pembaca sekalian ada yang pernah mendengar tentang garam beryodium? Apa sih sebenarnya yodium itu? dan kenapa garam harus beryodium? Yuk simak sejarahnya dibawah ini:

 

Penemuan Unsur Yodium

Pada abad ke -19, Perancis sedang berperang dengan banyak negara tetangganya (termasuk dengan Inggris). Karena perang ini, dibutuhkan banyak bubuk mesiu untuk memenangkan peperangan. Salah satu komponen utama dalam membuat bubuk mesiu ialah Kalium Nitrat (KNO3).

Dalam keadaan terhimpit, pasokan Kalium Nitrat di Perancis menipis dan tidak bisa memasok dari negara-negara luar, akhirnya mereka harus menemukan cara untuk memproduksinya sendiri. Salah satu bahan baku utama dalam produksi KNO3 ini aialah Natrium Karbonat (Na2CO3) yang dapat diperoleh dari abu pembakaran kayu dan tanaman.

Bernard Courtois (1777-1838), ialah seorang pengusaha pembuat KNO3 dengan menggunakan abu kayu sebagai sumber Na2CO3. Abu kayu dilarutkan dengan air kemudian larutan tersebut diuapkan sehingga diperoleh endapan, endapan ini diekstraksi beberapa kali sehingga diperoleh Na2CO3. Proses ini menyebabkan kerak yang biasanya dibersihkan dengan senyawa asam dan dipanaskan.

Pada suatu hari Ia memutuskan untuk mengganti abu kayu dengan abu dari pembakaran kelp (sejenis rumput laut). Kemudian ketika bekas abu tersebut ditetesi dengan asam kuat (asam sulfat) menghasilkan warna violet. Proses ini dalam reaksi kimia merupakan proses oksidasi Iod (I) menjadi Yodium (I2):

2I  + H2SO4 → I2 + SO32- + H2O

Kemudian beberapa pengujian dilakukan oleh Courtois untuk menentukan jenis senyawa tersebut. Beberapa pengujian menyimpulkan bahwa senyawa ini memiliki sifat yang menyerupai Klorin(Cl), tetapi Ia tak yakin. Namun sayangnya, pengujiannya ini harus berhenti, dikarenakan dana penelitiannya habis. Ia memutuskan untuk menyerahakan kelanjutan penelitiannya pada; Charles Bernard Desormes (1777-1862), Nicolas Clement (1779-1841, Andre M. Ampere (1775-1836) dan Joseph Louis Gay Lussac (1778-1850).

 

Identifikasi Yodium

Pada Oktober 1813 seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris Sir Humphry Davy (778-1829) tiba di Perancis untuk menerima penghargaan untuk temuannya di bidang kelistrikan. Saat itu ia bertemu dengan Ampere, kemudian ia diberi sampel yang didapat Ampere dari Courtois.

Ketika menguji sampel ini Davy yakin kalau ini bukanlah Klorin (Cl) melainkan sebuah unsur baru yang menyerupai Klorin. Davy sendiri merupakan seorang ilmuwan yang sangat unik karena ia selalu membawa peralatan lab portabel kemanapun ia pergi.

Pertama kalinya temuan dari Courtois ini dipublikasikan ialah oleh Desormes dan Clement saat pertemuan di Institute Imperial Perancis pada November 1813. Kemudian pada 6 Desember Gay Lussac menyatakan bahwa unsur baru ini menyerupai oksigen atau senyawaanya. Tetapi pada 10 Desember 1813 Davy menuliskan sebuah jurnal di Royal Society of London yang berisi serangkaian eksperimennya pada sampel baru ini dan menyatakannya sebagai unsur baru bernama Iodine.

Nama ini menyerupai “Chlorine” dan “Fluorine” yang diambil dari bahasa Yunani (Iodine artinya berwarna violet). Gay Lussac yang berada di Perancis merasa dilangkahi oleh Davy yang berada di Inggris, kemudian ia mempublikasikan serangkaian percobaanya pada sampel baru ini dan memberinya nama “Iode” dan menolak nama dari Davy. Namun keduanya mengakui bahwa penemu pertama element ini ialah Courtois.

Pada 1831 akhirnya Institute de France memberikan penghargaan pada Courtois yang pada saat itu bangkrut dalam industri mesiu-nya. Ia kemudian beralih ke industri Yodium, tetapi akhirnya tetap bangkrut dan mati dalam keadaan miskin.

 

Penggunaan Yodium

Walaupun penemuan Yodium baru terjadi pada tahun 1811 (seperti yang sudah aku ceritakan) tetapi penggunaannya sebenarnya sudah dilakukan sejak 3600 tahun yang lalu oleh pengobatan China.

Pengobatan penyakit gondok dengan menggunakan abu dari rumput laut dan spons laut (pongifera). Metode ini tidak diketahui dasarnya, namun memang ada dalam catatan pengobatan China. Tanpa mengetahui lebih dalam lagi, pada pertengahan 1700-an metode pengobatan ini akhirnya masuk ke Inggris.

Keluarga dari Dr. Bate memonopoli pengobatan untuk penyakit gondok dengan resep obat dari China ini selama beberapa tahun. Hingga pada tahun 1779 rahasia bahwa pengobatannya menggunakan abu dari rumput laut dan spons laut diketahui dan digunakan oleh banyak orang.

Setelah ditetapkannya nama Iodine oleh Davy, penggunaan Yodium sebagai obat penyakit gondok pertama kalinya diperkenalkan oleh William Prout (1785-1850) yang menganalisa adanya kandungan Yodium yang tinggi pada banyak makhluk hidup laut (termasuk kelp dan spons laut).

Penelitian berikutnya ialah pada persebaran penyakit gondok oleh seorang ilmuwan Perancis Gaspard Adolph Chatin (1813-1901). Penelitian ini mencoba meneliti secara statistik tentang daerah-daerah tempat persebaran penyakit gondok, dan mayoritas tempat yang penduduknya tidak mengalami sakit gondok memiliki makanan dengan kandungan Yodium lebih tinggi daripada tempat yang terkena penyakit gondok.

Dari temuannya ini, Chattin menyimpulkan bahwa penyakit gondok disebabkan oleh kurangnya kandungan Yodium pada makanan, Ia menyarankan untuk memasukkan Yodium pada air agar tidak terjadi kekuarang Yodium di masyarakat, dimana penyakit gondok banyak ditemukan. Ide ini ditolak dengan berbagai alasan.

Penggunaan Yodium sebagai bahan anti penyakit gondok awalnya dilakukan dengan memberikan pil berisi Yodium pada anak setiap dua kali pertahun. Cara ini dirasa kurang praktis, hingga pada 1833 seorang teknisi pertambangan asal Perancis Jean Baptiste Boussingault (1802-1887) merekomendasikan pencampuran Yodium pada garam dapur.

Ide ini akhirnya menjadi praktek umum penanganan penyakit gondok hingga sekarang. Bahkan saat ini di seluruh dunia, ada 120 negara yang mewajibkan kandungan Yodium pada garam, termasuk Kanada dan Meksiko. Sedangkan di USA sendiri mereka merasakan bahaya gondok karena tidak diwajibkannya penggunaan garam beryodium, mereka mendidik anak-anak agar menggunakan dan mengonsumsi garam beryodium.

Well.. Tetapi akhir-akhir ini ada yang mengatakan kalau garam beryodium ialah akal-akalan atau konspirasi untuk mematikan industri garam lokal. Please.. Kalau enggak baca buku, jangan asal ngomong. Sedih banget lihat informasi gak jelas gitu langsung dishare ratusan bahkan ribuan kali di sosmed.. Aku akan bahas bagaimana konspirasi garam beryodium dan ide tentang produksi garam di Indonesia pada artikel berikutnya.

Thank you, share donk biar lebih banyak yang terdidik.

Reff:

Rosenfeld, L. Discovery and early uses of iodine.J. Chem. Educ. 2000, 77, 984–987.

Dasgupta, K. P.; Liu, Y.; Dyke, V. J. Iodine Nutrition: Iodine Content of Iodized Salt in the United States. Environ. Sci. Technol. 2008, 42, 1315–1323

 

Saigo No Sora

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

2 thoughts to “Biografi Unsur Yodium”

    1. Udah lama banget Mbak.. Hehe.. Di Indonesia emang belum wajib untuk memasukkan Yodium ke garam, jadi opsinya ialah mempromosikan garam beryodium sehingga masyarakat bisa memilih yang lebih sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *