Apa ada yang masih ingat bagaimana cara kalian memahami tentang konsep angka? Bagaimana kalian bisa menjelaskan apa itu empat, lima ataupun sepuluh?  Secara tidak sadar, angka telah menjadi bagian dari hidup kita, waktu, uang dan halaman pada buku selalu ditampilkan dalam bentuk angka. Tetapi jika kita bertanya kembali apakah angka itu? merangkai sebuah jawaban yang tepat akan cukup membingungkan.

Misalkan kamu menemukan sebuah mesin waktu kemudian menggunakannya untuk menuju ke masa lalu, dimana belum ada konsep angka. Maka bagaimana caramu menjelaskan apa itu angka? Ok.. Anggap saja kita memiliki bahasa yang masih sama. Apa kamu bisa menjelaskannya?

Ketika adikku masih kecil, sebelum masuk TK, Abah dan Umi membelikan sebuah buku yang berisi gambar-gambar. Buku ini mengenalkan angka dengan cara yang sangat baik. Pertama ada gambar dua buah apel, dua bola, kemudian dua buah pensil di bagian paling kanan ditampilkan angka “2”. Cara ini kurasa mendeskripsikan angka dengan sebaik-baiknya. Pertama  kita akan melihat apel dan apel, kemudian bola dan bola, pensil dan pensil, berdasarkan cara kerja otak manusia, kita akan dengan mudah menyadari bahwa dari apel hingga pensil ada pola yang sama, sehingga kita mengenalnya sebagai dua.

Kemudian konsep angka ini bertambah seperti adanya lima buah apel, lima buah bola, dan lima buah pensil, gambar ini merujuk pada kesimpulan adanya angka lima dan seterusnya hingga angka sembilan.  Setelah angka sembilan maka kita akan diperkenalkan dengan konsep baru, yakni sistem bilangan desimal.

Sistem bilangan desimal memberikan kita kemampuan untuk menentukan kelanjutan dari angka sembilan. Sepuluh.  Gabungan dari angka 1 dan 0 memberikan gambaran baru bagaimana aturan yang belaku pada sistem angka ini, selanjutnya kita akan mengenal 11, 12, bahkan 101, dan 1002. Kemudian kita bisa menghitung dari angka satuan, puluhan, ratusan, ratusan ribu, jutaan hingga tak akan ada habisnya.

Konsep yang kita dapatkan ini menjadi lebih lekat di pikiran dengan penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti ketika seorang ibu menunjukkan beberapa buah apel. Dibandingkan menyebutkan “apel, apel, apel, apel” ibu meyebutkan “empat apel” yang mewakili banyaknya jumlah apel. Kemudian enam jeruk, tiga mangga dan seterusnya. Pemahaman tentang konsep angka ini menjadi sangat natural untuk seorang anak manusia. Dan penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari sangatlah efektif.

Jika ada dua apel yang jatuh, kemudian beberapa menit kemudian ada tiga apel yang jatuh. Maka dengan menghitung ulang sebelum memungutnya kita akan menemukan apel-apel tersebut terwakili sebagai lima apel. Pun ketika melihat lima mangga jatuh kemudian berikutnya empat mangga juga jatuh, ketika menghitung satu persatu kita akan menemukan mangga-mangga ini terwakilkan oleh angka sembilan. Dari sini kita mendapatkan salah satu konsep matematika baru yakni penjumlahan.

Dari pelajaran awal ini kemudian kita bisa meninggalkan apel, bola ataupun mangga, sehingga yang tersisa ialah konsep angka. Sesuatu yang tidak pernah ada di pikiran kita sebelumnya, kini telah terbentuk dan menjadi sesuatu yang sangat nyata. Angka-angka ini kemudian menjadi sebuah alat berupa gagasan(imaji) yang sangat powerful dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi sekarang kamu sudah siap untuk kembali ke masa lalu dan menjelaskan apa itu angka. Tentu saja kita bisa menjelaskannya dari menghitung apel yang jumlahnya satuan, hingga menghitung kelap-kelip bintang di alam semesta yang jumlahnya tak terhingga.