Skip to main content

Sejarah Air di Bulan : Pencarian Jejak Kehidupan di Luar Angkasa (1)

Pastinya kalian sudah pada tahu khan seberapa pentingnya keberadaan air bagi para astronom, saintis dan geolog? Yah.. Hingga saat ini saintis hanya mampu menemukan kehidupan di tempat-tempat yang memiliki air. Oleh karenanya keberadaan air diidentikkan dengan kemungkinan keberadaan kehidupan. Salah satu yang paling awal dalam eksplorasi air di luar angkasa ialah tentang sejarah keberadaan air di Bulan.

Manusia menginjakkan kaki ke Bulan

Sudah tidak asing lagi khan dengan kisah manusia pertama yang menginjakkan kaki di Bulan? Yap.. Neil Amstrong dan Buzz Aldrin (pilotnya) telah memberikan catatan sejarah yang luar biasa sebagai orang pertama yang mengijakkan kaki di bulan. Walaupun misi ini sebenarnya lebih kepada misi militer dibandingkan misi ilmu pengetahuan, tetapi ini sudah menjadi ajang pembuktian bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia mampu mencapai luar angkasa, bahkan menginjak bulan!

Dalam catatan sejarah, manusia telah berhasil menginjakkan kaki ke bulan dengan Appolo 11 pada 1969, namun saat itu masih belum diketahui apakah bulan memiliki kandungan air. Kedatangan Neil ke bulan hanya membawa pulang beberapa bongkahan batu yang berasal dari bulan, namun tidak mengelilingi bulan sehingga belum mengetahui keberadaan kawah-kawah bessar dan kandungan air di bulan. 

Dalam beberapa berita telah dikabarkan bahwa selanjutnya China juga akan mengirimkan spacecraft-nya untuk membawa astronot menginjakkan kaki di bulan. Bahkan mereka berencana membuat basis luar angkasa di bulan pada tahun 2018 kemudian akan melanjutkan pencapaian ini untuk menginjakkan kaki di Mars pada 2020 [1].

Artinya bulan masih memiliki sisi menarik untuk penjelajahan luar angkasa.

Pertanyaan tentang apakah ada air di Bulan? ini telah terjawabkan dengan diluncurkannya The Clementine pada tahun 1994, spacecraft yang ditujukan untuk mengamati permukaan bulan dari dekat. Space craft ini kemudian mengirimkan data tentang bulan pada 1996, salah satu gambar yang diperoleh satelit ini menunjukkan adanya kawah di bagian kutub selatan yang mengandung es, ketebalan es ini diperkirakan 7.6 meter dan luasnya seukuran danau kecil. 
Data dari The Clementine ini kemudian dikonfirmasi lagi dengan satelit lainnya Lunar Prospector pada tahun 1998. Ini membuat ilmuwan terkejut sekaligus tertarik untuk mempelajari lebih jauh tentang bulan.
Masih dari Lunar Prospector akhirnya menemukan data bahwa jumlah es di permukaan bulan ini mencapai 6 milyar ton. Jumlah yang sangat fantastis.

Bagaimana Air masih ada di Bulan?

Pertanyaan yang sama juga aku pikirkan ketika membaca tentang keberadaan air di bulan ini. Bulan merupakan satelit kecil bumi yang di permukaanya tidak terdapat atmosfer, jadi seluruh bagian permukaan bulan akan terekspos langsung dengan ruang hampa (vacuum space). Artinya es akan di permukaan bulan akan lansung menguap, kemudian air akan segera menghilang dari permukaan bulan karena tidak adanya tekanan atmosfer dan gravitasi bulan tidak cukup kuat untuk menahan uap air ini. 
Selain itu bulan juga menerima sinar matahari langsung tanpa adanya atmofer sehingga temperatur di bulan mencapai 395 K atau 122 oC, artinya ini menjamin bahwa air di permukaan bulan akan langsung menguap ketika terkena sinar matahari langsung (walau hanya sebentar).

Area berwarna biru merupakan Aitken Basin

Namun di bagian Kutub Selatannya, khususnya daerah Aitken basin, terdapat kawah berukuran besar yang di dalamnya tidak pernah terkena sinar matahari. Tempat ini memiliki temperatur yang sangat rendah yaitu tak lebih dari 100 K atau -173 oC. Karena keberadaan kawah di kutub selatan yang tidak pernah terekpos sinar matahari ini, maka memungkinkan adanya es yang sudah tersimpan jutaan tahun lamanya [2]
Baca Juga: Perjuangan Einstein Dalam Sains


Mengapa di Bulan Tidak Ada Kehidupan?

Seberapapun banyak jumlahnya, permasalahan utamanya ialah air hanya bisa diakses sebagai nutrient atau sumber kehidupan jika dalam bentuk cairan, sementara dalam bentuk kristal es air membutuhkan proses tambahan untuk bisa menjalankan proses kehidupan.

Validasi bahwa di bulan tidak memungkinkan adanya kehidupan ialah cahaya matahari yang mengenai permukaan bulan secara langsung akan membuat temperatur di bulan sangat tinggi dan radiasi matahari langsung akan menyebabkan seluruh jenis kehidupan yang dikenal di bumi mati tak berdaya. Fakta-fakta ini merujuk pada satu kesimpulan bahwa air saja tak cukup untuk hidup, namun juga harus dalam bentuk yang mampu menyusun matriks kehidupan yaitu cairan [4].
Baca Juga: Sifat-sifat Unik Air

Hidup di Bulan

Ilmuwan tidak hanya berhenti pada pengetahuan bahwa di bulan tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan, banyak sekali ilmuwan, astronom dan geolog yang memimpikan kehidupan manusia di bulan.

Tidak menemukan kehidupan di bulan tak menjadi masalah, pertanyaan selanjutnya ialah “apakah mungkin manusia tinggal dan hidup di bulan? Definisi dari tinggal dan hidup di bulan ini bisa diartikan sebagai kolonialisasi (pembentukan masyarakat), ataupun hanya sekedar memposisikan bulan sebagai post luar angkasa dari bumi.

Dari segi sumberdaya yang ada, bulan tidaklah begitu menarik. Bulan tidak memiliki hujan berlian seperti Saturnus dan Jupiter, juga tidak memiliki air dan tumbuhan seperti bumi. Jika ada potensi besar yang dimiliki bulan, itu hanyalah energi matahari yang sagat besar untuk sel surya [3,4]

Jadi banyak ilmuwan yang juga menentang ide kolonialisasi bulan, karena memang terasa sangat tidak menguntungkan. Untuk alasan eksplorasi, penggunaan robot jauh lebih efisien, irit dan memberikan banyak informasi.

Namun beberapa saintis tetap berlomba-lomba untuk ide bahwa bulan dapat digunakan sebagai tempat tinggal manusia. NASA bahkan melakukan banyak penelitian dan merancang beberapa alat untuk mengekstrak air di bulan. Ide utamanya begitu sederhana, pertama mengambil bongkahan es menggunakan robot (karena temperaturnya terlalu dingin), kemudian menyerap energi matahari (yang banyak di bulan) dan melepaskan energi tersebut dalam bentuk mikrowave, hasilnya ialah es dari permukaan bulan akan menjadi air H2O(liquid) [5].

Apakah manusia akan benar-benar memiliki kolonialisasi di bulan seperti pada Manga dan Anime Gundam? Kurasa masih banyak pertanyaan yang harus dijawab untuk sampai pada kolonialisasi bulan, termasuk pada pertanyaan hukum mendasar “milik siapa bulan ini? Siapa yang berhak meninggalinya, memanfaatkannya termasuk merusaknya?”

Yap itulah sedikit kisah tentang sejarah air di bulan, berikutnya aku akan menulis tentang Sejarah air di Mars : Pencarian Jejak Kehidupan di Luar Angkasa (2).

Sumber:
1. https://phys.org/news/2016-12-china-probes-side-moon-mars.html
2. https://nssdc.gsfc.nasa.gov/planetary/ice/ice_moon.html
3. http://www.bbc.com/news/science-environment-24477667
4. Philip Ball, 1999, H2O A Biography of Water, Great Britain, Clay Ltd, St. Ives plc
5. http://www.space.com/7350-nasa-hopes-water-moon.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *