Skip to main content
Toleransi di Indonesia

Toleransi Level 100%

Setiap minggunya di laboraturiumku ada presentasi riset oleh anggota lab, baik itu mahasiswa, staf juga professor. Salah satu pembahasan yang menarik aku dapatkan beberapa waktu lalu, ialah dari Associate Professor di lab-ku, beliau menyampaikan tentang teknik menentukan struktur kristal yang terbentuk setelah terjadinya reaksi.

Oh ya, aku bekerja di Lab. Kimia Komputasi, khususnya simulasi molekul. Setelah melakukan simulasi molekul kami harus menganalisa hasil yang diperoleh dari simulasi yang telah berjalan. Nah salah satu interpretasi/analisa yang penting dalam simulasi padatan ialah tentang struktur kristal yang diperoleh.

Teknik yang digunakan oleh Associate Professorku ini ialah dengan mencoba menentukan pola yang ada pada struktur kristal berdasarkan posisi setiap molekul. Namun karena ini adalah gerakan dari ratusan ataupun ribuan molekul maka sering sekali posisinya tidak benar-benar tepat dan seragam. Untuk itulah dalam penentuan struktur kristal ini diperlukan sebuah batas toleransi, sehingga jika poisisi meleset beberapa Angstrom (0.1 nanometer) maka struktur kristal akan tetap dapat ditentukan polanya.

Dalam presentasi ini kami diskusi singkat bagaimana penentuan batas toleransi tersebut. Karena jika kita menggunakan batas toleransi yang terlalu kecil maka analisa struktur kristal tidak bisa dilakukan karena gerakan setiap molekul pasti ada yang meleset beberapa Angstrom tadi. Sedangkan jika kita menerapkan toleransi yang terlalu besar maka posisi molekul yang berantakan sekalipun akan dianggap sebagai struktur kristal, ini berakibat kita tak bisa menginterpretasikan struktur kristal tersebut.

 

Batas Toleransi

Konsep ini sebenarnya bukan pertama kalinya aku dengar ketika di sini, dalam dunia penelitian eksperiment konsep batas toleransi atau “tolerance level” ini sudah sangat umum digunakan. Jika sebuah penelitian diulang beberapa kali dengan metode dan kondisi yang sama, maka hasil yang diperoleh akan hampir sama (presisi), namun tidak benar-benar sama, pada point inilah kita harus memaklumi perbedaan kecil ini dengan batas toleransi.

Jika dalam sebuah eksperiment kita menemukan perbedaan yang sangat jauh antar data, maka tidak lagi ada gunanya batas toleransi ini, karena yang kita perlukan ialah mengulangi eksperiment tersebut ataupun mendefinisikan ulang hasil yang kita peroleh.

 

Prinsip dan Identitas Diri

Membahas tentang ini mengingatkanku kembali pada diskusi dengan guru Bahasa Jepangku, Sakai-sensei, kami pernah berdiskusi mengenai definisi toleransi dalam perspektif masyarakat Jepang.

Aku memulai diskusi dengan pertanyaan “Jika ada teman orang Jepang mengadakan sebuah pesta, kemudian aku diundang untuk datang dan ternyata tidak disiapkan makanan Halal, apa hal terbaik yang bisa saya lakukan?”.

Menariknya, yang pertama dipertimbangkan sensei ialah prinsip sebagai muslim. Aku jelaskan sekilas bahwa memakan makanan non-halal (haram) akan menyisakan ruang ketidak nyamanan bagi setiap muslim beriman, hati menjadi tidak tenang dan selalu was-was. Perkara halal-haram makanan ini merupakan prinsip yang mendasar bagi seorang muslim, sehingga mengetahui makanan yang haram kemudian masih saja memakannya ialah melanggar prinsip. Seperti hal-nya berkata bohong bagi orang Jepang, walaupun tak ada yang tahu tetapi perasaan kita jadi tidak tenang.

Nah.. Menanggapi hal ini Sensei mengatakan ada tiga opsi:

  1. Yang terbaik ialah kamu bilang saja terlebih dahulu di awal ketika di undang, kalau hanya makan makanan halal, dan jelaskan kondisimu sebagai muslim. Tuan rumah yang baik akan bisa menjamu tamunya dengan baik.
  2. Kamu datang dan makan saja makanan yang halal seperti sayuran, ikan dan yang nonalkohol sambil kemudian menjelaskan kondisi sebagai muslim. Orang yang mengerti bermasyarakat harusnya bisa memahami hal ini.
  3. Kalau memang dia tidak suka dengan prinsip makanan halal-haram yang kamu miliki sebagai muslim, maka yah sudah, tinggalkan saja. Jangan buat perasaanmu kacau hanya karena ingin menyenangkan orang lain.

Jadi opsi untuk “makan aja sedikit kan nggak papa demi menyenangkan tuan rumah” itu tidak ada. Tidak akrab dengan seseorang yang secara prinsip jauh berbeda dengan kita, itu hal yang wajar, biasa dan boleh-boleh ¬†untuk dilakukan. Jangan kemudian lupa pada prinsip dan identitas diri sendiri hanya agar dibilang toleransi dan diterima orang lain.

 

Bertoleransi yang 100%

Nampaknya bertoleransi yang 100% ialah berlawanan dari penggunaan toleransi itu sendiri. Toleransi di Indonesia seharusnya digunakan untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan kecil, bukan sebuah perbedaan yang sangat besar. Sama seperti dalam penelitian ilmiah, tidak ada maknanya semua data eksperiment kalau kita pakai tolerance level-nya 100%.

Jangan di kemudian hari kita ketemu pemabuk, lalu dia undang kita mabuk-mabukan, kemudian kita terima saja undangannya dengan dalih toleransi, ini salah total. Di undang ke acara keagamaan agama-agama lain sementara kepercayaan kita berbeda, ini bisa saja membuat perasaan kita tak nyaman, pada posisi ini kita wajar saja menolak. Dan jangan dibilang anti-toleransi.

Aku beberapa kali di ajak ke kuil shinto, nah aku datang dengan niat wisata, sesampainya di kuil temanku ngajakin lempar koin, disitu aku ngerasa nggak nyaman, akhirnya aku bilang, aku ga mau ikutan, dia bilang ini koinnya nanti aku kasih, aku ketawa aja pas itu, kemudian menjelaskan alasanku bukan masalah uang koinnya. Sampai sekarang aku masih sering di ajakin jalan-jalan sama dia, tak ada masalah berarti karena dia bisa memahami hal ini.

Jadi toleransi itu tidak boleh kebablasan, jangankan 100%, lebih dari 5% saja bisa-bisa seluruh data penelitian kita nggak ada maknanya kok. Harus tepat dan ditempatkan dengan proporsional. Perbedaan-perbedaan kecil yang ada bisa kita hilangkan demi kenyamanan bersama, itu makna toleransi di Indonesia buatku.

Perbedaan untuk hal-hal yang besar dan mendasar berkaitan dengan prinsip maka tak perlu ditoleransi karena malah membuat kita nggak nyaman nantinya.

Belajar dari Sensei-ku maka untuk bisa bertoleransi di manapun, pertama kita harus mengenali identitas diri kita, hal-hal apa yang menjadi prinsip dalam hidup kita. Jangan sampai kita terombang-ambing nggak jelas hanya karena ingin dibilang toleran.

Thanks for reading!

Saigo No Sora

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

2 thoughts to “Toleransi Level 100%”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *