Apakah Kementerian Pendidikan Sudah Selesai dengan Eksperimennya?

Posted on

Akun sosial media Kementerian Pendidikan sedang sangat marak dibicarakan akhir-akhir ini. Alasannya, berbondong-bondong generasi millenials (siswa) menyampaikan keluhannya di kolom komentar. Banyak yang melihat kalau komentar dari siswa tersebut ‘lucu’ bahkan ada yang menilai `cerdas’. Namun Aku melihat komentar yang masuk itu hanya lucu sebagai candaan tapi semoga bukan kenyataan. Tulisan kali ini tidak akan membahas tetang ujian SMA yang baru saja berlangsung itu. Kita akan bicara lebih jauh ke hal mendasar, pendidikan sejak zaman aku sekolah.

Sejak tahun 1999, semenjak Aku di SD hingga sekarang, Kementerian Pendidikan terus-terusan mengganti programnya. Bagaimana dampak bongkar pasang kurikulum ini? Dan bagaimana sebaiknya pendidikan dijalankan?

Kurikulum Pendidikan Indonesia
Kurikulum Pendidikan Indonesia

Proyek Eksperiment Pendidikan

Masih ingat sekali dulu sempat ada program untuk pengadaan susu dan makanan di saat istirahat pertama (semacam makan siang). Belakangan Aku mengerti kalau program ini ialah versi KW5-nya dari program makan siang dalam pendidikan Jepang. Saat itu program pendidikan masih sangat ortodox, dimana siswa dipaksa mencatat, menghafal, berhitung dan mengerjakan soal.

Lima tahun berselang kemudian di SMP kelas satu, pertama kalinya diperkenalkan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004 (KBK). Kalau menilik sejarah pendidikan, KBK ialah awal kekacauan pendidikan. Kurikulum sebelum-sebelumnya dibentuk dengan acuan pelengkapan atau penyempurnaan kurikulum yang sudah ada, tetapi KBK ialah pengganti Kurikulum 1999. Perubahan mendasar ini sebenarnya karena perubahan kiblat pendidikan Indonesia menjadi ke Barat-baratan (Amerika & Eropa).

Buku-buku pada KBK tidak berisi point-point penting pengetahuan, melainkan berisi pengantar untuk diskusi pengetahuan. Jadi siswa dituntut untuk aktif dalam mencari ilmu pengetahuan itu sendiri.  Menurutku ini bagus dan menarik sebagai wacana, tetapi dalam praktik pendidikannya ternyata sangat sulit. Guru-guru yang sudah terbiasa mengajar dengan metode ketimuran, tidak bisa secara instant berubah haluan. Akhirnya banyak guru yang tidak mampu menyampaikan pokok ilmu pengetahuan karena gagal mengarahkan diskusi di kelas. Hasilnya? Entahlah! (Dan aku punya argument untuk kata “Entahlah” itu!)

Setelah KBK, di tahun 2006, saat aku kelas 3 SMP, kurikulum berubah lagi. Tidak ada alasan pergantian kurikulum ini, tak seorangpun mengukur keberhasilan atau kegagalan sistem KBK, tetapi harus digantikan. Kali ini diberi nama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara umum aku masih tidak terlalu paham perbedaan dari KTSP dan KBK. Tetapi yang mendasar ialah bahwa KTSP mencoba mengarahkan pendidikan sebagai wewenang guru-guru daerahnya. Oleh karena itu silabus disusun oleh masing-masing guru di daerah yang dikumpulkan. Dampak paling terasa dari KTSP ialah kepanikan guru-guru untuk membuat silabus sekolah setiap semesternya. Bagaimana efektifitas dari KTSP? Entahlah!

Agaknya budaya untuk mengganti kurikulum lima tahunan berusaha dipertahankan, pada 2013 kurikulum berubah lagi. Kali ini bernama Kurikulum 2013, tidak ada nama khusus karena agaknya semakin sulit membuat singkatan kurikulum. Adakah studi kelayakan, kesuksesan atau kegagalan untuk KTSP? Tidak ada, tetapi bagaimanapun harus digantikan Kurikulum 2013. Ide dari kurikulum 2013 ialah untuk mengembangkan nalar dan keterampilan siswa. Oleh karena itu pelajaran matematika dianggap sangat penting dan diberi jam lebih, sementara mata pelajaran lainnya seperti IPS, PKN dan Bahasa Indonesia dirampingkan.

Silih bergantinya kurikulum setiap 5 tahun ini menurutku berdampak sangat serius dalam sistem pendidikan kita. Pertama kali diperkenalkannya kurikulum baru, maka guru harus menyesuaikan metode pendidikannya. Untuk bisa mahir dalam mengajarkan kurikulum yang baru ini, guru harus berusaha dan berlatih setiap harinya, dan menurut teori, dibutuhkan waktu 10.000 jam untuk mahir.

Jika guru berproses sangat cepat, sehingga dalam 5000 jam latihan mereka sudah menguasai kurikulum baru, artinya perlu waktu dua tahun lebih untuk bisa menguasai kurikulum baru. Jadi guru baru bisa menerapkan sebuah kurikulum secara sempurna setelah kurun waktu dua tahun atau lebih. Setelah dua tahun berlatih untuk kurikulum baru, dua tahun berikutnya dia harus ganti kurikulum lagi, maka siklus training kurikulum baru itu berjalan terus dan terus.

Hasilnya? Guru terbebani oleh kurikulum yang berganti-ganti, sementara siswa kebingungan karena guru belum menguasai kurikulum yang baru. Konten ilmu pengetahuan di dalam pendidikan akan semakin jauh dan siswa semakin tertinggal. Sementara negara lain sudah sangat maju.

Berkaca pada Jepang, mereka baru mengupdate acuan pendidikannya setelah 30 tahun. Artinya kemahiran guru mengajar sesuai dengan kurikulumnya telah mencapai level yang sangat tinggi (berpengalaman mengajar dengan kurikulum baru selama lebih dari 10.000 jam). Tetapi ini juga disebabkan karena pembentukan kurikulum dasar yang tepat! Simak pembentukan kurikulumnya di bawah!

 

Hipotesis Apa yang Diuji Kementerian Pendidikan?

Salah satu kisah paling sukses dalam dunia sains ialah penciptaan lampu oleh Thomas Alfa Edison. Ia berhasil menciptakan lampu setelah 10.000 percobaan. Berbagai jenis material dia coba untuk menghasilkan nyala lampu pertama di dunia yang bisa bertahan lama, dan akhirnya pada percobaan ke 10.000, ia berhasil. Metode penelitian yang dilakukan Edison ini ialah eksperiment berdasarkan hipotesis tertentu. Basis dari hipotesisnya ialah pengetahuan. Thomas Alfa Edison tidak menemukan filamen lampu yang terbuat dari karbon secara kebetulan atau percobaan acak. Tetapi ia mempelajari sifat dari element karbon sehingga bisa melihat keberhasilan dalam penggunaanya.

Sekarang bagaimana dengan kementerian pendidikan? Apa hipotesis yang diuji Kementerian Pendidikan sejak 1999? Apa dasar dari hipotesisnya? Dan apa kesimpulannya?

Setelah melihat garis besar pendidikan di Indonesia, aku justeru merasa sebagai tikus percobaan di dalam laboraturium. Disuntik dengan metode dan materi sekolah, kemudian dilihat apa yang terjadi. Namun pada akhirnya tidak ada yang perduli jika saja mati, mengalami gangguan pencernaan, kecacatan ataupun hidup sekalipun.

Berikutnya tikus lainnya masuk dan dilabeli Generasi Millenials, obat baru disuntikan. Pun tak ada yang perduli pada hasilnya.

Apakah percobaan ini dilakukan peneliti hanya untuk memakan dana eksperiment? Mungkin tidak, tapi entahlah.

 

Analisa dan Sintesa


Dalam pendidikan Jepang, salah satu hal yang paling terkenal ialah budaya makan siang-nya. Event makan siang di dalam pendidikan Jepang bukan sekedar rutinitas biasa. Dibalik konsep makan siang ini, terdapat pelajaran gizi dan kesehatan, sosial dan kemasyarakatan, tanggung jawab dan kedisiplinan. Lalu mengapa hingga seserius itu hanya untuk sebuah program makan siang? Karena dalam penyusunan kurikulumnya menggunakan filsafat pendidikan ketimuran bahwa bukan hanya kecerdasan yang perlu dimiliki oleh anak tetapi juga sikap emosional yang baik dan kesehatan fisik.

Ketika menyusun kurikulum pendidikannya, para pakar pendidikan di Jepang mempelajari gaya pendidikan yang sudah ada di masyarakatnya. Jepang telah mengenal pendidikan sekolah sejak zaman samurai. Ketika pemerintahannya telah menjadi satu dan peperangan tak diperlukan lagi, samurai menyebar ke desa-desa (disebut ronin), karena kelas sosial mereka tidak bisa bertani maka di pedesaan mereka membuka sekolahan dan mengajar anak-anak petani. Inilah yang menjadi awal kemunculan sekolah-sekolah di Jepang.

Ahli pendidikan mereka mengamati dan menganalisa dari segi sejarah, budaya dan kebutuhan pendidikan masyarakatnya baru kemudian membuat kurikulum. Hasilnya ialah kurikulum yang final, tidak kedaluarsa setelah 30 tahun dilaksanakan dan berhasil membawa tatanan masyarakat yang sangat maju.

Hal ini sebaliknya tidak terlihat dalam Kementerian Pendidikan di Indonesia. Perubahan perubahan yang dilakukan dalam sistem pendidikan kita, cenderung secara sederhana menjiplak pendidikan luar(read: Barat). Sehingga tujuan dan filsafat pendidikan di Indonesia kocar-kacir, tak berbentuk. Ketimuran ditinggalkan, kebarat-baratan setengah hati.

Sebagai contohnya saja dulu ketika peralihan dari kurikulum KBK ke KTSP, pelajaran matematika di level SMP dan SMA masih merupakan penguasaan teknik perhitungan level tinggi. Ujian Nasional difokuskan pada kemampuan siswa menggunakan perhitungan level tinggi dengan cermat dan tepat. Model-model soalnya ialah hitungan dengan angka yang menyiksa otak, angka dibelakang koma dibiarkan menumpuk untuk dihitung, terkadang harus menyelesaikan pengakaran pangkat tiga di dalam soalnya. Namun di tahun-tahun belakangan ini, kiblat pelajaran matematika telah berubah total, saat ini, fokus pelajaran matematika ialah agar siswa mampu melakukan analisis dan penyelesaian masalah. Model soal pada ujian nasional lebih banyak membaca text (studi kasus). Namun perhitungannya menggunakan teknik yang sederhana namun aplikatif.

Jika kita membaca perubahan tersebut dan membandingkannya, maka akan memahami bahwa gaya pendidikan zaman dulu ialah sangat ketimuran. Model pendidikan yang menekan siswa agar bisa menguasai teknik-teknik perhitungan matematika level tinggi ini serupa dengan pendidikan yang ada di Jepang, China dan India. Sebaliknya, belakangan ini pendidikan matematika yang mengarahkan anak ke problem solving ialah gaya pendidikan Amerika dan Eropa.

Lebih Barat, Lebih Bagus dan Lebih Maju?

Loh.. Bagus donk kebarat-baratan, kita kan nggak boleh anti terhadap pengetahuan luar? Well.. Sepakat kalau gitu. Dalam hal sains dan teknologi, pengaplikasian secara langsung memang merupakan jalan termudahnya. Namun tidak semuanya bisa langsung dicontek! Apalagi untuk bidang pendidikan yang berkaitan dengan sosial dan budaya.

Contohnya begini, mesin cuci, vacum cleaner dan pemanas air merupakan teknologi yang bisa langsung di copy-paste dari barat ke Indonesia. Namun untuk mesin pertanian tidak bisa semudah itu. Di Barat, petani menggunakan traktor, mesin penanam benih dan mesin panen untuk ladangnya. Ini tak bisa langsung diterapkan di Indonesia, sebab mesinnya terlalu besar! Kepemilikan lahan petani indoensia terlalu kecil sehingga mesin-mesin besar ini tidak bisa masuk ke lahan tanpa merusak lahan orang lain. Selain itu ada banyak lahan model senkedan yang konturnya tidak rata. Mesin-mesin pertanian tak bisa masuk ke lahan tanpa adanya adaptasi. Artinya latar belakang sosial dan budaya yang berbeda membuat penerapan suatu pengetahuan dari luar tidak lagi relevan.

Sama hal-nya dengan sistem pendididkan. Tidak akan bisa copy-paste langsung jadi. Alangkah bijaknya jika kurikulum pendidikan kita dibuat dengan berdasarkan pada studi sejarah, sosial dan budaya masyarakat yang ada. Analisis kondisi masyarakat Indonesia dari dalam, teliti budaya, teliti pola sosial masyarakat, baru kemudian sintesis rumusan kurikulum yang paling sesuai.

Hal buruk yang juga harus dihadapi dengan sistem pendidikan yang terlalu barat (khususnya Amerika) ialah akan munculnya generasi yang sangat briliant dan sangat tak berguna (read: useless). Saat ini mungkin semua sepakat kalau Amerika masih menduduki puncak perekonomian dunia, artinya negaranya kaya raya! Tetapi dibalik itu masyarakatnya masih banyak sekali yang tidak punya kerjaan dan miskin. Ini menjadi isu utama alasan Donald Trump menang di sana.

Pendidikan yang mengedepankan agar  anak-anak berfikir dan menjadi problem-solver (penyelesai masalah) biasanya mengesampingkan rutinitas pengerjaan soal yang sama. Ini pernah disampaikan oleh orang tuaku (guru SMP). Bahwa buku dan kurikulum terbaru di level SMP sudah sangat mengurangi latihan soal yang sama berulang ulang. Sangat berbeda dengan ketika aku SMP.

Di tahun 2003, mengerjakan soal matematika yang sama hingga 50x atau 100x sebelum ujian ialah hal yang sangat biasa (read:umum). Tetapi tampaknya saat ini tidak begitu kegiatan sekolahnya. Anak diminta mengerjakan soal yang variatif dengan penyelesaian yang beragam. Bagi anak-anak cerdas, tentu ini sangat menyenangkan! Mereka bisa tergila-gila dengan soal yang menantang daya analisa dan sintesa seperti itu. Tetapi bagi anak yang kurang briliant, ini akan sangat sulit dicerna.

Jadi anak yang briliant akan semakin briliant karena bisa mengerjakan banyak variasi soal dan merumuskan banyak penyelesaian soal. Namun bagi anak dibawah rata-rata mereka tidak mampu memahami proses analisa dan sintesa. Sialnya mereka juga tidak melakukan latihan 50x atau 100x soal yang serupa.

Tidak melakukan latihan yang sama berulang-ulang artinya mereka tidak paham tentang penguasaan skill, tidak mengerti arti disiplin dan kerja keras. Gaya pendidikan Asia, seperti Jepang, memaksa anak untuk melakukan latihan soal hingga ratusan kali. Dampaknya ialah anak menjadi disiplin dan bisa mengerti arti dari kerja keras. Kehilangan pokok pendidikan tentang kerja keras dan latihan berulang-ulang ini menyebabkan anak jadi sangat tak berguna (read useless).

Itulah yang terjadi di Amerika. Di tingkat atas mereka memiliki orang yang super jenius dan cerdas, mengembangkan teknologi masa depan dan mega bisnis. Namun disisi lainnya ialah orang yang tak mampu melakukan apapun dengan benar, karena tak mengerti disiplin dan kerja keras.

Orang-orang yang briliant seperti Steve Job, mengetahui dengan jelas betapa buruknya kualitas pekerja kelas bawah di Amerika. Ia memutuskan untuk membuat seluruh pabrik Apple di China karena kualitas pekerja China yang jauh lebih baik. Dalam pertemuannya dengan Barrack Obama, Steve Jobe mengatakan “Jobs aren’t coming back”.

Disisi lain, di negara Amerika sendiri, sudah banyak sekali pekerjaan professional diisi oleh pekerja asing, saintis berasal dari Yahudi dan China, dokternya dari India dan Pakistan, ahli IT dari India.

Pada intinya ialah pendidikan Indonesia yang terlalu berkiblat ke Barat tentunya tidak sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat kita. Tidak perlu memaksakan kurikulum pendidikan kita agar seperti Barat, sebab sistem pendidikan mereka juga tidak final dan bisa menimbulkan permasalahan baru. Sebaliknya, pendidikan gaya ketimuran yang sudah melekat di Indonesia justeru bisa saja membawa perbaikan bangsa seperti contohnya Jepang. Point pentingnya ialah perumusan kurikulum pendidikan selayaknya mengedepankan aspek historis, budaya dan sosial masyarakat dibandingkan element luar.

Thanks for reading.
Silahkan diskusi di komentar. 😀

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

8 thoughts on “Apakah Kementerian Pendidikan Sudah Selesai dengan Eksperimennya?

  1. Halo, saya baru follow ig kamu dan langsung tertarik baca blog kamu.

    Saya sendiri mahasiswi pendidikan, Mari kita diskusi! saya pernah bertanya di pelajaran kurikulum mengenai perubahan kurikulum di indonesia yang terasa terburu buru.

    Yap, poin yang kamu sampaikan ditulisan itu benar. Indonesia belum punya ‘patokan’ dalam merilis kurikulum. Berbeda dengan negara Malaysia misalnya, walaupun kurikulumnya berubah haluannya tetap sama. Sedangkan negara kita karena tidak ada patokan itu, maka hal yang cukup wajar perubahan kurikulum terasa begitu drastis.

    Saya juga mengharapkan ada kajian serius mengenai kurikulum dalam hal historis dan budaya. Ya, kita berkiblat ke barat yang bahkan ada wacana bahwa perguruan tinggi nanti menggunakan sistem student loan. Saya kurang setuju, terlebih melihat kasusnya di Amerika yang malah melambungkan hutang dan membuat perekonomian negara semakin terbebani.

    Sepertinya ini kepanjangan ya hehe. Oke deh untuk awal, salam kenal!

    1. Halo, thanks udah baca 🙂

      Aku bukan mahasiswa pendidikan sih, tapi lumayan tertarik.

      Kalau aku sih melihatnya student loan ini teknis saja. Masalah yang timbul lebih ke keamanan ekonomi (pelajar) dan celah korupsi pejabat. Sebab dimana ada program pemerintah dengan transaksi keuangan disitu pula ada celah korupsi.

      Pendidikan sendiri nggak akan bertambah baik hanya dengan itu. Kalau aku tetap aja, selama tidak ada studi filsafat, sosial, budaya sebagai arah tujuan pendidikan, akan sulit sekali pendidikan maju.

  2. Saya sih gak setuju kalau dibilang gak semua orang capable buat ngerjain soal ‘problem solving’.

    Asal ngerti prinsip dasarnya harusnya soal itu sama aja kayak soal biasa. Kalau menurut saya sih, sekarang pendidikan di Indonesia sekarang bergerak ke arah yang baik kok, tinggal tunggu aja

    1. “Asal ngerti” itu Mbak, enggak semua orang mengerti.

      Saya berbicara soal “problem solving” bukan soal latihan biasa. Bedanya soal problem solving dan latihan biasa itu ialah pada model masalah yang muncul. Soal biasa itu punya pola pengerjaan yang sama step by step-nya, soal problem solving itu punya step by step yang selalu berbeda, dibutuhkan kreativitas, pengetahuan dan inspirasi dalam pengerjaanya. Dilatih bagaimanapun ada anak2 yg memang tidak mampu mengerjakan problem solving sebab sifat dari soal tersebut yang variatif dan baru.

      (Note: Saya tidak sedang bicara soal cerita yang langkah pengerjaanya sama sehingga bisa dilatih, ini bukan problem solving yg saya maksud).

  3. Kalo menurut saya,jaman sekarang ini siswa lebih mudah menyampaikan pendapat, karena arah pendidikan yg lebih akrab.
    Perubahan kurikulum ke barat baratan ini adalah gagasan baru,siswa dituntut aktif bertanya dan berdiskusi tdk kelas boring yg cuma memperhatikan guru saja dan harus saklek thdp mata pelajaran.saya harap sih,ini bentuk dini beraspirasi (demokrasi) jgn sampai ini dianggap kemunduran pendidikan Indonesia.
    Kurikulum kita ini msh stagnasi,belum bentuk final,kita tunggu saja gebrakan pendidikan yg lainnya walaupun sebenarnya saya sudah nyaman dengan kurikulum sekarang.

    1. Kritik saya tidak menuju ke “Kurikulum sekarang ialah kemunduran”. Dalam tulisan ini titik beratnya ialah pada tujuan pendidikan. “Mengapa perlu mengubah kurikulum setiap lima tahun” itu salah satu point penting tulisan ini. Jika kurikulum sebelumnya gagal, bukankah perlu evaluasi dan perbaikan? Bukan perubahan total.

      Kamu dan saya punya perbedaan mendasar, bagi kamu kebabasan beraspirasi yang dibawa demokrasi itu bagus, bagi saya itu aspirasi yang tumpul. Bagi kamu kelas yang memperhatikan guru itu boring, bagi saya itu adalah sumber ilmu. Kenapa berbeda pendapat? Nanti jg kamu tahu. Bagi kamu bentuk pendidikan kebarat-baratan ialah gagasan baru, bagi saya itu cuma nyontek, tidak ada kebaruan. Sudah saya tuliskan “Apa susahnya ngimpor TV?” saya maunya Kamu bongkar itu TV lalu buat seluruh komponennya dengan bahan dasar yang ada di Indonesia dan rangkai ulang!

      Kalau melihat rutinitas pergantian kurikulum kita, sepertinya tidak akan mencapai bentuk finalnya, sebab tak jelas filsafat pendidikannya(core). Kurikulum yg kamu rasakan itu belum pada bentuk sebenarnya sebab guru-guru masih kebingungan dengan konsep kurikulum yg ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.