Berkarya tanpa syarat
Berkarya tanpa syarat

Berkarya modal Angin

Posted on

Di tahun 2016, Aku membeli kamera untuk memulai hobi baru, yakni fotografi sekaligus mengabadikan momen jalan-jalan di Jepang. Akhirnya kamera bekas karena di Jepang harganya terbilang murah dan kualitasnya masih sangat bagus.

Sebulan setelah memiliki kamera tersebut, ada rasa kurang puas. Foto yang kuhasilkan kurang bagus, menurutku penyebab utamanya adalah karena kamera yang ada kurang berkualitas.

Dengan bantuan internet, sehari-harinya kuhabiskan waktu untuk membandingkan kamera apa yang lebih bagus? Tentu saja lebih mahal lagi. Dan mulai saat itulah aku selingkuh, sudah mendambakan kamera lainnya.

Di 2017, kamera pertama tersebut akhirnya kuberikan ke kakak. Sebab sudah mantap untuk meminang kamera baru yang lebih seksi.

2018, sesuai keinginan, kamera baru tipe mirrorless sudah digenggaman. Tak berselang lama, siklusnya berulang, aku sudah melirik kamera lain, lensa dan peralatan yang baru. Perasaan Si seksi mirrorles ini tidak lagi cukup bagus, harus yang lebih baru, lebih up to date, lebih mahal.

Setelah dipikir-pikir, kamera pertamaku hanya menghasilkan kurang dari 500 gambar. Itu adalah untuk tiga perjalanan. Selain dari tiga perjalanan itu, kamera menganggur, bahkan sering berdebu.

Kisah ini aku bagikan tentu saja bukan untuk pamer kamera baru. Tetapi menegaskan, kalau mau berkarya, ya harus fokus pada karya, seberapa banyak karya yang dihasilkan, bukan fokus pada masalah dan batasan yang ada.

Cerita tentang kamera ini adalah ironi. Sudah punya kamera bukannya mulai motret, berlatih dan menghasilkan gambar-gambar bagus, malah browsing kamera lain.

Fokusnya malah untuk mendapatkan alat terbaru, terbagus, terbaik, dan tidak mulai-mulai berkaryanya. Ini kan cari syarat baru untuk motret, yang sebenarnya syaratnya sudah dipunyai.


Aku ulangi sekali lagi, mau berkarya, berkarya saja, saat ini juga. Jangan memberikan prasyarat harus begini, harus begitu, tunggu punya ini, tunggu beli itu, halah malah nambahin beban.

Karena Aku masih mahasiswa (yang prihatin), lebih suka memulai sesuatu dari nol, nol rupiah maksudnya. Kalau sudah berjalan rutin dan konsistensi terbangun, baru deh mau keluarin duit juga ga papa.

Jadi buat yang ingin berkarya, menulis ataupun memotret tetapi masih kebanyakan prasyarat, percayalah kalau kualitas dan keberlangsugan karya Kamu nantinya tidak ada hubungannya dengan semua syarat-syarat rumit itu. Semua prasyarat yang Kamu kira mempengaruhi kualitas karya itu sebenarnya hanya alasan agar menunda-nunda.

Jangan tertipu.
Seperti Aku yang menghabiskan banyak uang untuk meminang dua kamera, padahal tidak pernah fokus berkarya memotret.

Sekali lagi, kerjakan saja dulu, latihan konsisten, jangan pake syarat, apalagi syaratnya menguras kantong.

Ingin menulis?
Tidak ada waktu? Sempatkan!
Tidak ada laptop? Pakai hape!
Tidak ada blog? Pakai FB!

Jangan sampai alasan-alasan yang kamu buat sendiri menjadi penghambat utama dalam berkarya.

Ohh.. Ya, kamera yang baru, Si Seksi mirrorless, sekarang Aku pakai motret walaupun di dalam kamar, motret buku, motret buah, sayuran, tas, apapun.

Aku yakin, semakin sering motret semakin menguasai kamera, semakin berkualitas karya. Ga perduli kamera atau lensa apa yang dipakai.

Jadi untuk menulis, kalian nggak perlu keyboard baru, layar baru, seminar dulu atau harus baca kamus besar bahasa Indonesia dulu. Nggak perlu! Cukup duduk dan mengetiklah!

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.