Buble Wrap Untuk Otak
Buble Wrap Untuk Otak

Buble Wrap untuk Otak Kamu

Posted on

Salah satu fenomena yang menurutku cukup mengkhawatirkan di-era internet dan social media ialah filter buble. Fenomena ini terjadi karena algoritma yang diterapkan oleh search engine dan sosial media. Mereka hanya menampilkan pencarian yang selaras dengan isi pikiran/pandangan kita selaku pengguna.

Mereka menganggap kita sebagai pengguna, di satu sisi ingin mendapatkan informasi yang benar. Namun pada kasus tertentu tidak siap terhadap kebenaran itu sendiri.

Facebook menganggap jika seluruh informasi ditampilkan secara terang-terangan dan terbuka, kita tidak siap. Kemudian alih-alih mengkaji informasi tersebut, kita malah langsung menutup laman Facebook. Ini adalah kerugian bagi Facebook, oleh karena itu diciptakanlah algoritma yang hanya menampilkan informasi yang selaras dengan pandangan kita. 

Sekarang mari lihat laman Facebook kita hari ini, jika kalian pro-vaksin, maka akan ada banyak informasi tentang pro-vaksin yang bertebaran. Sedangkan tulisan-tulisan anti-vaksin akan hilang entah kemana. Padahal dari 4000 teman di Facebook ada kemungkinan satu atau dua orang yang anti-vaksin kan? 

Contoh yang lebih nyata lagi ialah pandangan politik. Jika kalian pro-pemerintah maka yang banyak muncul di beranda FB ialah tulisan pujian dan progress keberhasilan pemerintahan. Tulisan tentang kegagalannya entah tenggelam ke mana? 

Pun jika kalian pro-oposisi maka yang banyak muncul adalah tulisan tentang seberapa gagalnya pemerintah. Keberhasilannya entah terkubur di mana?

Padahal tidak mungkin kan selama 1488 hari menjabat tidak ada prestasi ataupun kesalahan dari pemerintah?

Bahkan sekarang ini, filter buble itu sudah masuk pada hal-hal yang tidak penting seperti produk minuman, handphone, dan kamera. Pepsi vs Cocacola, Iphone vs Samsung dan Canon vs Nikon merupakan contoh yang paling banyak kita lihat di dunia maya. 

Nahh… Celakanya filter buble ini tak hanya terjadi karena algoritma, tetapi juga kita amini dengna tingkah laku. Ketika menemukan pandangan yang berbeda, alih-alih mempelajarinya, kita langsung saja klik tombol block

Bahkan ada yang bergaya superhero dengan mengatakan bahwa “Kalau ada yang sharing postingan A/B/C/D otomatis saya block!”. Seolah-olah itu adalah aksi heroik. 

Padahal sejatinya kalau dikaji ulang ini hanyalah bentuk sikap pengecut, sebab takut mendengar ataupun melihat perspektif yang baru dan berbeda. Dan tentu saja dalam jangka panjang hanya akan membuat pikiran menjadi semakin sempit. 


Nah.. Kita nggak usah bahas lagi lanjutan dampak-dampak dari filter buble ini. Karena artikel ini khusus aku tuliskan untuk memberikan cara mengatasi filter buble di sosial media. 

Algoritma facebook, google dan sosial media lainnya dijalankan oleh mesin yang bekerja berdasarkan data. Nah.. Data yang masuk ialah kata, kalimat dan interaksi yang kalian ketikkan setiap harinya di sosial media. 

Begini, kalau kalian hanya menulis dan share informasi antivaksin dengan kalimat-kalimat bernada positif. Maka informasi yang masuk di beranda kalian ialah seputar antivaksin semua. Sebaliknya, jika kalian kasih kalimat bernada sinis maka yang muncul ialah seputar pro-vaksin. 

Jadi untuk mengakali mesin ini, kita harus memasukkan data dan informasi yang salah. Eh.. Bagaimana maksudnya? 

Yap! Kalau pandangan kalian ialah antivaksin, cobalah share juga tentang provaksin. Kalau pandangan kalian oposisi, cobalah share juga tentang prestasi pemerintah. Nantinya beranda kalian akan lebih berwarna lagi. 

Looh.. Kalau begitu nggak bisa mewakili opini dan pandangan pribadi kita donk? Nah.. Untungnya manusia sudah menciptakan alat untuk mengakali perbedaan pandangan. Alatnya disebut “buble wrap untuk otak”, ehh.. Salah. Maksudnya alat itu adalah majas ironi atau dalam bahasa inggrisnya sarcasm. 

Jadi kalian bisa saja membuat tulisan yang membenarkan antivaksin tetapi dengan majas ironi/sarcasm. Dengan cara itu opini kalian tentang provaksin tersampaikan ke manusia, sementara mesin masih menganggap kamu antivaksin.

Pun bisa juga membagikan tulisan atau berita pro-pemerintah dengan komentar pujian bermajas ironi. Dengan begitu teman-temanmu tahu pendapatmu yang pro-oposisi tetapi mesin masih bingung mendefinisikan posisimu ada dimana. 

Cara ini setidaknya mengubah tiga hal. Gambaran mesin Google dan FB tentang dirimu, kemungkinan memiliki lebih banyak teman-teman dari berbagai latar belakang dan tentu saja memperluas pikiranmu dengan gagasan dan informasi baru. 

Yap itulah buble wrap untuk otak. Boleh dicoba kalian pikirkan pandangan apa saja yang kalian takuti di dunia maya, kemudian cari itu dan share dengan majas ironi selama seminggu ke depan. Pastinya perubahannya tidak langsung terjadi, kalian bisa lakukan lagi seminggu berikutnya dan minggu berikutnya juga. 

Thanks for reading!

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.