Ikan Paus itu adalah Anak Bansa
Ikan Paus itu adalah Anak Bansa

Ikan Paus itu adalah Anak Bangsa

Posted on

Sekitar sebulan yang lalu, hangat diperbicarakan di ruang publik, media sosial dan media massa online, tentang ikan paus yang karam di Wakatobi, sebuah pulau kecil di Sulawesi Tenggara. Isu ikan paus yang terdampar mati di Wakatobi ini menjadi sorotan bukan hanya di Indonesia tetapi di dunia karena ketika dibuka bagian perut dari ikan paus ini berisi sampah plastik. 

Dilaporkan oleh WWF  “5,9 kg sampah plastik ditemukan di dlm perut paus malang ini! Sampah plastik yaitu: plastik keras (19 pcs, 140 gr), botol plastik (4 pcs, 150 gr), kantong plastik (25 pcs, 260 gr), sandal jepit (2 pcs, 270 gr), didominasi o/ tali rafia (3,26 kg) & gelas plastik (115 pcs, 750 gr).” 

Kalau kita melihat luasnya lautan, maka kejadian terkumpulnya sampah plastik di dalam perut paus ini tidak mungkin merupakan kebetulan. Artinya ikan paus tidak sedang berenang di lautan, kemudian ketika membuka mulutnya plastik itu masuk ke dalam tubuh paus. 

Masuknya plastik ini besar kemungkinannya dikarenakan ketertarikan ikan paus terhadap sampah plastik karena mengiranya sebagai makanan. Perilaku mengira sampah plastik sebagai makanan ini terjadi pada lebih dari 180 spesies laut. 

Siapa yang salah hingga hewan laut mati karena mengkonsumsi sampah? Tentu saja hewan-hewan tersebut yang salah, karena mereka nggak bisa membedakan sampah plastik dan cumi-cumi atau ubur-ubur makanan mereka. 

Itu kalau kalian mau jawab menggunakan kebodohan sebagai dasar berargumennya.

Tetapi kita kan sudah sama-sama tahu bahwa manusia yang memproduksi, menggunakan dan membuang sampah plastik itu. Maka sebab matinya hewan laut setiap harinya itu karena sampah plastik yang dibuang oleh manusia. 

Sampah plastik yang banyak di lautan itu memang akibat dari manusia yang tidak mengerti tentang membuang sampah pada tempatnya. Mereka buang sampah sembarangan, terseret ke got, terbawa aliran ke sungai dan masuk ke laut. 

Tetapi tidak bisa dipungkiri juga bahwasannya sampah plastik itu ada karena plastiknya diproduksi, dijual dan diiklankan diberbagai media. Promosi penggunaan plastik ini telah dimulai sejak tahun 1950.


Kesuksesan plastik hingga dipercaya menjadi bungkus makanan, minuman, bahkan sayuran, yap sayuran organik dibungkusnya pakai plastik! itu semua disebabkan karena promosinya yang sudah lebih dari 60 tahun. Dulu kita tidak pernah tahu kalau sampah plastik ini menjadi berakibat sangat fatal bagi lingkungan. Dulu, manusia tidak mengira kalau plastik itu bisa merusak tanah, mencemari air bahkan hingga menewaskan Ikan Paus, yang sejatinya sangat jauh interaksinya dari kehidupan manusia dan plastik.  

Karena itu, kalau saat ini ada yang membuat petisi untuk menghentikan iklan plastik, sebagai orang yang pernah belajar lingkungan, aku sih sepakat-sepakat saja. 

Sebab jika plastik-plastik ini tidak populer, maka sampah plastik yang berpotensi masuk ke dalam tubuh ikan paus di Wakatobi jelas berkurang. 

Iklan botol plastik dengan berbagai lekuk bentuk dan warnanya ini, memang menarik. Tetapi kalau kita sudah tahu dampaknya 20 hingga 60 tahun mendatang maka menahan popularitas penggunaan plastik ini mungkin jauh lebih baik. 

Kalian tahu lah, kalau usaha-usaha untuk memerangi penggunaan sampah plastik itu sudah dimulai sejak awal tahun 2000an. Saat ini memang sudah semakin marak, dipopulerkan oleh gaya hidup urban dan berbagai organisasi pemerhati lingkungan. 

Tetapi perkembangannya itu belum seberapa dibandingkan dengan terus bertambahnya penggunaan kemasan plastik untuk makanan, minuman dan produk lainnya. 

Artinya, ketika plastik-plastik sudah sangat populer akibat iklan di TV-TV, internet dan berbagai media, maka untuk menanggulangi masalahnya diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Jadi jika iklan-iklan kemasan plastik dihentikan menggunakan petisi, seharusnya masyarakat modern menyepakatinya. 

Jelas yang akan berteriak nyaring ialah produsen plastik dan media yang mencoba mempromosikannya. Sebab ada banyak sekali penggunaan produk plastik yang mereka pasarkan. Industri makanan, minuman, pakaian, make up dan berbagai industri fashion, kesemuanya menggunakan plastik sebagai kemasannya.

Sebab seperti judul di tulisan ini, aku nggak mau kalau anak bangsa di masa depan dijejali dengan sampah plastik hanya karena otak mereka tidak bisa membedakannya dari makanan asli. 

Thanks for reading!

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.