Industri Pesawat Indonesia VS Industri Jeans Kojima Jepang

Posted on

Hal yang bisa menggerakkan perekonomian negara ialah industri Nasional yang bangkit dan mampu bersaing. Kali ini kita akan bahas sedikit banyak tentang perbedaan cara pandang dalam membangun industri di Indonesia jika dibandingkan dengan Jepang. Kedua industri ini memang sama sekali berbeda dari segi bidang usahanya, yakni Industri Pesawat Indonesia VS Industri Jeans di Kojima, tetapi masih bisa kita bandingkan konsep dari keduanya.

Artikel ini mungkin lebih banyak ke opini pribadiku tentang Industri di Jepang dan di Indonesia. Bisa jadi salah besar, karena memang aku tidak terlalu mendalami dunia Industri, tapi aku coba seobyektif mungkin agar manfaat buat pembaca. Jadi hanyalah berdasarkan pengamatan sederhana dan studi literatur singkatku, bisa kalian bantah, boleh juga untuk tidak setuju.

Industri Pesawat Indonesia VS Industri Jeans Kojima Jepang
Industri Pesawat Indonesia VS Industri Jeans Kojima Jepang | Created by Macrovector – Freepik.com

Industri Pesawat Terbang Nasional

Sejarah pendirian Industri Pesawat Terbang Nasional yang sekarang diubah namanya menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) sudah pernah aku tuliskan, silahkan dibaca di artikel: Biografi Nurtanio, The Habibie’s Senpai.

Pada awal pendiriannya, dimana namanya saat itu masih LAPIP, Nurtanio sebagai penggagas utama industri ini menyadari bahwa industri pesawat terbang rintisannya tidak memiliki cukup dana untuk produksi pesawat. Oleh karena itu, langkah awal yang diupayakannya ialah untuk memberikan jasa perawatan pesawat terbang dan industri pembuatan komponen pesawat terbang.

Saat itu jenis pesawat terbang besutan dari LAPIP yang terbilang sukses ialah Gelatik yang merupakan pesawat pertanian pesanan dari pemerintah Polandia. Selain dari Gelatik, bisnis lainnya yang memberikan cash ialah penyediaan perawatan pesawat tempur dan helikopter besutan dari German dan Rusia.

Sayangnya pengembangan ke arah pembuatan suku cadang pesawat tidak diutamakan, kemudian beralih kembali ke pembuatan pesawat terbang. Usaha dan perkembangan pembuatan pesawat terbang ini erat kaitannya dengan kinerja Habibie (terutama sebelum menjadi wakil presiden).

Menahun sudah berdiri, industri pesawat terbang kita nyatanya mandek. Menurut seorang dosenku saat kuliah S1 dulu “Membuat pesawat kalau suku cadangnya bersal dari luar negeri semua, itu seperti menjahit baju saja, cuma menempel-nempelkan sparepart dari luar, yang kita jual hanya desainnya”.

Menjual desain pesawat saja nampaknya tidak terlalu prospek untuk industri karena risetnya sudah pasti menghabiskan banyak biaya untuk beli dan gonta-ganti suku cadang yang cocok. Pengembangan untuk memproduksi seluruh suku cadang pesawatnya di dalam negeri sepertinya mimpi yang terlalu jauh.

Hingga saat ini, PT Dirgantara Indonesia masih kembang kempis untuk bisa menjalankan roda industrinya. Pasalnya di tahun 2007, PT DI dinyatakan pailit karena tidak dapat membayar hutang, gaji dan tunjangan karyawan-karyawannya.  Namun pada tahun 2012, PT DI kembali bangkit yang di awali dengan pengiriman 4 pesawat CN235 pesanan Korea Selatan.

Walaupun telah bangkit, sepertinya strategi bisnisnya belum mengarah ke pembuatan suku cadang pesawat. Salah satu kesulitan yang akan dihadapi ketika ingin masuk ke industri pembuatan suku cadang ialah pasokan energi yang belum mumpuni.

Di Negara-negara industri hampir semuanya memiliki pasokan energi listrik yang berasal dari Nuklir (Jepang, Korea, German, China). Masyarakata Indonesia sendiri masih ragu, bahkan cenderung takut untuk aplikasi PLTN, maka wajar kalau pengembangan industri untuk pembuatan komponen utama pesawat jelas masih jauh dari mimpi.

Industri Jeans Kojima di Jepang

Kalau kalian penggemar fashion, terutama  Jeans, maka salah satu yang nggak boleh kalian lewatkan ialah Jeans Jepang. Nyaris semua Jeans made in Jepang ialah produksi dari daerah bernama Kojima.

Faktanya, Kojima ialah daerah yang sangat kecil, terletak di pinggiran kota Okayama. Ketika pertama kali aku mendengar Jeans Kojima, maka yang terpikirkan olehku ialah pabrik yang memproduksi Jeans.

Masalah Kojima Jeans ini ternyata tidak sesederhana pikiranku itu. Sekitar tiga bulan yang lalu aku ikut sebuah trip yang memberikan sejarah munculnya industri Jeans Kojima.


Ketika pertama kali memikirkan untuk memulai industri Jeans, para pengusaha di Kojima ratusan tahun silam tidak berbicara tentang mesin Jahit, ataupun gambar desain celana yang akan dibuat. Hal pertama yang mereka pikirkan ialah darimana mereka bisa mengimpor biji kapas (karena di Jepang tidak ada tanaman kapas).

Setelah tahu cara impor kapas, lalu apa yang dipikirkan? Pabrik Jeans? Noo… Hal kedua yang mereka cari ialah (sejenis) Ikan tuna. Loh?

Jadi rupanya, untuk menanam kapas, tanah di wilayah Kojima tidak cukup subur, oleh karena itu mereka perlu pupuk. Salah satu sumber pupuk organik yang paling baik dan bisa diperoleh dalam jumlah besar ialah sari ikan.

Oleh karena itu pedagang di Kojima pergi hingga ke Hokkaido (menggunakan kapal) untuk membeli dan mengumpulkan ikan tuna yang akan dijadikan pupuk. Setelah produksi kapasnya ada, baru kemudian mereka buat industri Jeans, produsen pewarnaan, dan industri turunannya hingga fashion.

Hingga saat ini, Kojima masih menjadi produsen utama Jeans di Jepang. Walaupun industri textile di Jepang sudah loyo karena kekurangan tenaga kerja, namun Kojima masih bertahan dan mampu menunjukkan kualitasnya untuk bersaing dengan brand-brand besar dunia.

Industri Jeans di Kojima berhasil menghidupkan roda ekonomi, dari petani kapas, buruh pabrik jeans hingga desainer dan penjahit yang memproduksi pakaian.

Pelajaran dari Kedua Kasus

Dari perbandingan keduanya kalian pasti sudah sadar perbedaan mendasar ketika berbicara tentang industri di Jepang dengan di Indonesia. Di Jepang yang mereka pikirkan ialah bahan dasarnya, apakah mungkin memproduksi bahan dasarnya? Ini wacana utama mereka. Berbeda halnya dengan kebanyakan di Indonesia, kita berfikirnya justeru “beli/impor saja bahan-bahan gitu, nggak usah repot-repot”. Jepang sebagai negara Industri justeru selalu menantang kerumitan kemudian mengubahnya menjadi peluang emas.

Kalau banyak dari kalian yang berfikiran “Loh, Jeans kan industri recehan, beda dengan pesawat terbang yang komponennya rumit luar biasa”. Oke, aku ambil contoh Jeans karena kebetulan dapat tripnya ke Kojima.

Jika ingin contoh industri yang rumit, K (baca: Key) yang merupakan Superkomputer milik pemerintah Jepang, full seluruh komponen hardwarenya merupakan karya anak bangsa, alias made in dalam negeri. Superkomputer K didukung oleh benchmark Fujitsu dan rangkaiannya menggunakan TOFU system, yang semuanya merupakan made in Japan.

Selain dunia komputer, kamera dan elektronik, Jepang juga dikenal dengan industri mobilnya, semuanya menggunakan strategi yang sama dimana bahan dasarnya mereka buat sendiri. Pembuatan komponen-komponen penting ini dilakukan oleh industri-industri skala kecil dan menengah di Jepang. Inilah  wajah industri di Jepang, dimana mereka menantang kesulitan untuk menjadi yang terbaik dan terdepan.

Well. Mungkin banyak dari kalian yang tidak setuju dengan artikel kali ini, mari kita diskusikan di komentar. Feel free to share. 🙂

Thanks for reading!

 

Ref:

Dirgantara Indonesia

Perkembangan Dirgantara Indonesia

PT Dirgantara Indonesia Dinyatakan Pailit

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

4 thoughts on “Industri Pesawat Indonesia VS Industri Jeans Kojima Jepang

  1. hihihi menarik, kalau ditinjau dari sisi energi, kayaknya supply masih cukup bro Mahfuzh, bahkan kalau udah industri agak besar kebanyakan punya pembangkit sendiri utk supply pabriknya (tentu kapasitasnya ndak sebesar pembangkit PLN), termasuk dari cara mereka supply bahan material, para direktur kemungkinan sudah memikirkan dan menghitung untung ruginya buktinya sampai sebelum IMF melarang pak Harto, pak Habibie masih optimis proyek ini jalan, alasannya mungkin bisa dibuka kembali kenapa IMF menyuruh Indonesia stop utk menyalurkan uang ke proyek pesawat terbang. Mungkin analoginya mirip kalau pemberi hutang Jepang bilang ke pemerintah Jepang utk ultimatum kepada pedagang jeans agar tdk boleh mencari tuna atau menanam pohon kapas.

    1. Lah gitu alasannya Pak? Whahaha.. Saya salah besar… Maafkeun…. Kalau itu alasannya sih berarti emang agak sulit untuk maju kecuali modal total uang sendiri yah Mas? Apa itu juga alasan kenapa Pak BJ. Habibie mengumpulkan uang dengan crowdfunding di proyek Pesawat R80?

      1. Bisa jadi mas Mahfuz, kalau menurut my stupid theory kalau memang produk unggulan artinya negara harusnya mengutamakan produk itu biar Indonesia jualan produknya, tp kalau sampe pak Habibie and co cari dana mungkin artinya support dana / arahan pemerintah utk cara mendapatkan dana bagi proyek ini masih kurang. Kalau pakai modal total uang sendiri kayaknya memang belum prioritas sekarang mas Mahfuz, alokasi dana kementrian pu masih lebih besar dari pada ristekdikti

  2. Setuju sam, memang industri seharusnya seperti itu, mungkin hal tsb yg bikin pak habibie nda suka ketika pemerintah malah memilih membiayai pembuatan pesawat tempur dibandingkan bikin pesawat sipil…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.