Humanity
Humanity

Jurnalistik Sampah dan Netizen Bahlul

Posted on

Terpaksa judul tersebut aku sematkan di blog ini. Ini adalah opini saya, semoga saja kalian tidak tersinggung. Saya tuliskan dalam rangka mengembalikan ‘rasionalitas dan etika’ yang mungkin telah hilang saat banjir kuota. 

Penjarahan yang terjadi di Palu merupakan kejadian yang miris dan sangat disesalkan oleh banyak pihak. Tidak ada alasan yang mampu membenarkannya, sebab yang dicurinya bukanlah bahan makanan ataupun kebutuhan pokok. 

Melihat kejadian ini, awak media bergerak cepat menenteng kameranya, satu-persatu gambar ia kutip, menangkap moment paling menarik mata, ada yang mengundang empati, simpati, pun ada yang hanya mengaktifkan imajinasi liar manusia.

Setelahnya, mereka berkerja dengan laptopnya menuliskan artikel-artikel yang sangat polos, tapi apalah artinya sebuah artikel, toh satu gambar bisa bercerita lebih dari 1000 kata.

Hari itu juga, artikel-artikel dengan judul yang paling “click-bait” dimunculkan. “Penjarahan dimana-mana”, “Penjarahan di Palu” dan beragam judul serupa. 

Pemilik kuota berlebih, tanpa pikir panjang langsung menggunakan layar sentuhnya untuk melihat sebuah berita kriminal di lokasi gempa. Tak lama berselang hingga tombol Share ditekan. 

Sementara itu, seorang di belahan dunia lain melihat sebuah artikel click-bait yang ada di beranda sosial medianya. Kelas sosial yang cukup tinggi membuatnya tak perduli kuota, satu sentuhan jari kemudian ia dapat membaca sebuah artikel polos, dengan gambar yang sangat provokatif. 

Siklus berlanjut, share, share, share… Kemudian berita sampai di tangan media asing, hanya dalam hitungan jam hingga artikel tersebut dirilis dalam bahasa internasional. Booom! Meledak, Pengunjung meningkat, share bertambah, berita meluas. 

Komentar, cacian, makian, dan kutipan-kutipan keji yang menyalahkan berbagai pihak, hingga ajaran agama diselipkan ke dalam setiap share yang terjadi. Kolom komentarpun penuh, dengan berbagai hasutan tambahan. 

Bagaimana kebenaran dibalik rangkaian mata rantai berita tersebut? Siapa yang menjarah barang-barang mewah tersebut? Dalam kondisi psikologi apa dia menjarahnya? Apakah dia korban? Atau orang yang rumahnya masih berdiri kokoh, hidupnya masih aman kemudian memanfaatkan kegaduhan ini untuk menjarah?

Tak satupun berita merilisnya, pun tak satu media asing pun yang bersedia menyelidikinya. Apakah media mewawancarai pelakunya? Setidaknya menanyakan motivasinya mencuri? Tidak. Takut diamuk? Bukankah nilai jurnalistik itu ada pada keberanian?


Sekarang berita telah tersebar, persepsi pihak asing telah terbentuk, bahkan juga orang-orang loka. Dampaknya? 

Apakah orang dengan standard moral rendah berhak menerima bantuan? Pertanyaan ini tidak terucapkan, tetapi itu ada dipikiran. Dia seperti paku yang menancap ketika membaca artikel click bait dengan foto provokatif. 

Organisasi-organisasi masyarakat jadi kesulitan mengumpulkan donasi. Pihak-pihak asing akan enggan menyalurkan dolarnya, bahkan saudara sebangsa tak lagi merasakan empatinya. 

Penjarah-penjarah itu adalah maling paling hina. Mereka adalah kriminal yang runtuh kemanusiaanya. Namun sekali lagi apa mereka gambaran umum dari korban gempa di Palu? Apakah jumlah mereka lebih dari 20% korban? sampaikah 10%?

Jangan-jangan mereka terlihat mendominasi hanya karena angka share yang banyak, jangkauan yang jutaan, dan kolom komentar yang panjang? Notabenenya itu adalah kelakuan jurnalis sampah dan netizen bahlul.

Sempatkah terpikirkan nasib para korban yang kehilangan keluarganya, tanahnya, dan masa depan hidupnya? Mereka sedang dalam keadaan lara, linglung dan lunglai. Bahkan sekedar untuk makan dan minum-pun mereka tidak mampu. 

Sedangkan garis bantuan yang akan datang telah di blokade… oleh jurnalistik sampah, oleh netizen bahlul.

Kalian bagikan ataupun komentari hal ini, tidak membuat kalian terlihat cerdas. Sedikitpun tidak ada manfaatnya membagikan berita ini, kecuali pundi-pundi emas untuk media massa dengan kualitas jurnalistik sampah.

Masih ada waktu, masih ada harapan, segera temukan jalan kalian, untuk membantu mereka. Buktikan jika kemanusiaan itu masih lebih berharga dari kuota internetmu. 

Huda

Ref: Gambar diambil dari http://www.edexat.com/faqs.html

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.