Kebodohan Akibat Micin Telah Diramalkan Oleh Ilmuwan Muslim Ratusan Tahun Silam

Posted on

Sebelum aku memulai diskusinya, mungkin sudah banyak sekali yang membaca terkait pengaruh micin pada kecerdasan, atau mungkin ada yang sudah membaca juga artikel bantahannya dengan klaim (saintifik). Terlepas dari apakah ini benar dalam kajian sains atau tidak, perkara kebodohan akibat micin telah diramalkan oleh ilmuwan muslim ratusan tahun silam. Bagaimana pendapatnya? Mari kita kaji bersama di bawah ini:

Ibnu Khaldun of Tunisia

Pada 27 May 1332 lahirlah seorang ilmuwan muslim bernama Abu Zayd ‘Abd Ar-Rahman ibn Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami, atau yang lebih dikenal di dunia barat dengan sebutan Ibn Khaldun. Ia lahir di tengah keluarga yang berkemampuan dan memiliki posisi yang terhormat.

Ilmuwan-Muslim-Ibnu-Khaldun-uang
Ilmuwan-Muslim-Ibnu-Khaldun-uang

Berada pada keluarga yang terpandang membuatnya mudah untuk mendapatkan pendidikan dari pemikir-pemikir hebat di masanya. Masa kecilnya diawali dengan pelajaran-pelajaran sejarah islam, kajian Al-Quran, Bahasa Arab, Hadist, Sharia dan Fiqh (hukum-hukum islam. Di dalam autobiografinya, terlihat bahwa pendidikan telah menjadi perhatian utama di dalam keluarganya, karena kakaknya juga merupakan seorang ahli sejarah.

Sebelum usia 17 tahun, Ibnu Khaldun telah mempelajari matematika, logika dan filosofi dari permikir-pemikir cerdas, dan telah mengkaji karya-karya besar sebelumnya dari Ibn Sina, Al Razi, Ibn Roes.

Ibnu Khaldun menuliskan sebuah buku berjudul Al Muqaddimah (eng: The Introduction). Buku ini yang nantinya membuat gempar dunia barat pada tahun 1800-an.

Materi utama dari buku ini berbicara tentang peradaban dan masyarakat karena bidang utama yang menjadi minat dari Ibnu Khaldun ialah pada Sejarah dan Sosiologi.

Baca Juga: Ilmuwan Dunia yang Dijadikan Figur Pada Uang Kertas

The Muqaddimah

Secara kebetulan aku terfikirkan topik tentang micin ini setelah membaca rangkuman dari buku The Muqaddimah. Buku ini aku dapatkan dari berlangganan Blinkist, sebuah applikasi handphone yang keren banget, berisi buku-buku berkualitas internasional.

Dari rangkuman tersebut disebutkan kajian Ibn Khaldun seputar peradaban masyarakat yang maju dan yang terbelakang. Salah satu ide yang menarik buatku ialah tentang ide bahwa “terlalu banyak bumbu pada masakan” dapat menurunkan daya pikir dan kerusakan intelektual.

Membaca itu, aku langsung dengan iseng menuliskan status FB dengan mengaitkan bahwa bumbu masak tersebut ialah micin, persis seperti judul di atas dengan referensi dari buku The Muqaddimah.

Banyak yang secara langsung berfikiran bahwa “Wahh.. Ibnu Khaldun sudah mengatakannya, ini pasti saintifik! Ilmiah karena berasal dari Ilmuwan muslim!”

Nahh.. Mari kita luruskan kembali bahwa Ibnu Khaldun ialah seorang ilmuwan muslim, namun bukan pada bidang sains. Bukunya The Muqaddimah juga bukan sedang berbicara sains ilmu alam (bio, kim, fis) melainkan tentang kajian sejarah dan peradaban.

Ini yang menarik, kajian seorang Ibnu Khaldun tentang bumbu pada masakan bukanlah sebuah kajian ilmiah sains, melainkan kajian sosial masyarakat. Jadi ini bukan tentang efek lansung mengenai “bumbu masak” atau “micin” mempengaruhi otak sehingga membuat kerusakan intelektual, melainkan merupakan kajian kritis perilaku masyarakat yang mengkonsumsi terlalu banyak bumbu.

Dalam bukunya, Ibnu Khaldun sedang berbicara tentang orang-orang yang gaya hidupnya mewah terlalu berfoya-foya sehingga menggunakan bumbu pada masakan secara berlebihan (bumbu pada masa itu merupakan hal mewah). Orang-orang dengan gaya hidup mewah ini relatif kurang berfikir, atau dalam bahasanya mengalami kerusakan intelektual.

Sebenarnya point utama dari Ibn Khaldun pada masalah ini bukanlah sistem kerja biologis seseorang yang terpengaruhi oleh bumbu masakan, melainkan cara pandang terhadap kehidupan. Ibnu Khaldun sedang mempromosikan gaya hidup yang bersahaja (zuhud).

Tidak perlu mencampurkan beragam bumbu masakan, membuat sebuah kerumitan yang tidak diperlukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad untuk makan. Dalam pemikirannya, pengolahan makanan yang menggunakan bumbu secara berlebihan ini menyita pikiran, membuang-buang energi dan menghabiskan waktu.

Jadi dalil Ibnu Khaldun tentang bumbu masakan di bukunya ini tidak ada kaitannya dengan keributan media sosial tentang micin. 🙂

The Micin

Kontroversi perkara micin dapat merusak jaringan otak dan menyebabkan kebodohan ialah isu yang lama. Micin ditengarai menjadi penyebab turunnya kemampuan berfikir, gangguan kesehatan, bahkan gangguan penglihatan.

Micin MSG Monosodium Glutamat
Micin MSG Monosodium Glutamat

Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa micin atau MSG merupakan senyawa kimia yang ditemukan oleh Professor Ikeda. MSG terkenal berasal dari perusahaan makanan asal Jepang bernama Ajinomoto. Perusahaan yang didirikan oleh Prof Ikeda ini berhasil menemukan cara paling efektif dan murah memproduksi MSG untuk zat aditif makanan.

Ajinomoto melakukan penelitian yang mendalam mengenai indera perasa manusia, dan mendapati faktor utama yang menyebabkan masakan itu enak. Ya! penyebabnya ialah Mono Sodium Glutamat (MSG), atau belakangan banyak yang menghindari nama itu dan menggantinya dengan Mono Natrium Glutamat (MNG) padahal sami mawon, podo wae.

Asam Glutamat ialah senyawa dasar dari Mono Sodium Glutamat. Dalam ilmu kimia, penambahan Na+ (Eng: Sodium) pada senyawa Asam Glutamat akan membuat senyawa ini mudah larut di dalam air. (note: hampir semua produk zat aditif makanan diberi Na+ agar mudah larut di air)


Asam Glutamat terdapat pada tubuh manusia (secara alami), dan juga terdapat pada bahan alami seperti tomat matang, daging, jamur kering, kombu, dll. Selain itu Glutamat juga terdapat pada keju, Kecap asin, Saus Tomat.

Bagi orang Jepang MSG adalah fitur baru pada masakan yang luar biasa, sebab hanya dengan menambahkannya sedikit pada masakan bisa memberikan efek lezat yang bombastis. Penggunaan MSG menjadi sangat populer dan umum di Jepang sejak 1909, sebelum WW2 (perang dunia ke-2).

MSG menjadi booming di Amerika sejak paska WW2. Ini berdasarkan dari pengamatan koki perang yang melihat bahwa tentara Amerika tak pernah menyisakan makanan yang disediakan tentara Jepang. Sisa makanan dari tentara Jepang yang terus habis ini membuat mereka penasaran, dan saat itulah ditemukan rahasianya bahwa masakan tentara Jepang menggunakan Ajinomoto.

Sejak saat itu penggunaan MSG pada produk makanan menjadi sangat umum di Amerika. Melihat maraknya penggunaan MSG, hingga lebih dari 90% industri makanan menggunakannya, dalam New England Journal of Medicine seorang Dr Ho Man Kwok menuliskan sebuah artikel ‘curhatan’ bahwa dia mengalami gangguan kesehatan paska mengkonsumsi makanan mengandugn MSG.

Berita ini di blow up besar-besaran hingga tak ada pembahasan saintifik mengenai MSG, namun banyak artikel tak jelas yang mendukung pernyataan ini. Setelah besarnya isu ini, dilakukan berbagai percobaan ‘seolah-olah ilmiah’ di beberapa laboraturium untuk menyelidikan kebenarannya.

Namun, hampir semua percobaan memberikan MSG pada sampel uji (umumnya tikus) secara ugal-ugalan, overdosis. Jumlah MSG yang dicampurkan pada tikus lebih dari 4x dari dosis normal konsumsinya. Ini menyebabkan kerusakan jaringan otak pada tikus yang kemudian populer menjadi ide “MSG membuat otak rusak”.

Hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa MSG menyebabkan kerusakan jaringan otak, gangguan kesehatan dan gangguan mata. Namun, mitos MSG tidak sehat dan harus dihindari tak lagi bisa terbendung.

Akhirnya saat ini baik dari pihak Ajinomoto maupun banyak Perusahaan baru lain harus merumuskan bentuk baru dari MSG dengan dampak yang baik bagi kesehatan dan memberikan patent dengan nama lain. Pada dasarnya, bersaingnya perusahaan makanan untuk merumuskan ulang tentang MSG mungkin sesuai dengan keinginan Dr Ho Man Kwok yang menghawatirkan monopoli Ajinomoto pada industri makanan.

Licik? Tapi berhasil. Hahaha

Di beberapa tulisan yang dulu sempat populer di FB, seseorang mencoba membela “Si Micin” dengan mengaitkannya pada produksi micin menggunakan Cassava (singkong) yang merupakan produk nasional Indonesia. Membacanya aku jadi agak gimana gitu.

Menempelkan label nasionalis pada penggunaan micin dengan mengungkapkan bahan dasarnya ialah singkong, kupikir tak kalah bodohnya dengan pendapat micin itu berbahaya tanpa dasar. Well.. Tapi karena ada tempelan nasionalis inilah jadi viral tulisannya.

Baca Juga: Apa itu Racun Sianida?

Generasi Micin

Akhir-akhir ini banyak sekali yang melontarkan istilah “Generasi Micin”. Bahkan kalau kalian menuliskan di Google “Micin” bukan lagi bahasan ilmiah MSG yang kalian dapatkan tetapi justeru pembahasan tentang istilah “generasi micin” yang akan muncul.

Populernya istilah generasi micin ini merujuk pada anak-anak generasi baru yang tak mampu berdiskusi dan berfikir logis.

Jika istilah generasi micin ini digunakan merujuk pada anak-anak sekarang yang kekurangan kemampuan berfikirnya karena terlalu banyak makan micin, maka aku kurang sepakat.

Faktanya Micin tak menyebabkan generasi baru kehilangan kemampuan berfikirnya.

Tetapi jika menempelkan istilah generasi micin ini untuk anak-anak yang terlalu banyak bersenang-senang, makan mewah, foya-foya dan tak mengerti tentang bersahaja dan “zuhud”, maka aku sepakat!

Jadi belum ada kajian secara ilmiah bahwa micin itu berbahaya ataupun menyebabkan kerusakan otak dan kehilangan kemampuan berfikir. Namun kelebihan micin sudah pasti berakibat sangat buruk baik bagi kesehatan maupun pada kemampuan berfikir. Untuk batas aman konsumsi MSG ialah 170gr/ hari untuk orang dewasa. Ini jumlah yang sangat banyak sehingga umumnya mengkonsumsi makanan mengandung MSG tergolong aman-aman saja.

Kebersahajaan untuk memenuhi kebutuhan jasmani yang alakadarnya sudah terbukti membawa kejernihan berfikir dan kecerdasan bagi para ilmuwan dan pemikir.

Menghapus kerumitan untuk hal-hal kecil berarti ada banyak waktu untuk memikirkan hal-hal besar.

Aku sendiri tidak banyak menggunakan micin dalam masakan, karena tidak terlalu suka masak, dan emang cuma ada bumbu garam dan gula di dapurku. Hehe.. 🙂

Thanks for reading, share your thought in the comment section!

Reff:

  • Ibn Khaldun, The Muqaddimah, Blinkist
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Khaldun
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Ajinomoto#History
  • http://www.parenting.com/article/on-call-kids-and-msg
  • https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2005/jul/10/foodanddrink.features3
  • http://www.independent.co.uk/life-style/food-and-drink/msg-additive-good-for-you-food-science-sodium-salt-glutamic-acid-chinese-bad-health-steve-witherly-a7567406.html
Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

8 thoughts on “Kebodohan Akibat Micin Telah Diramalkan Oleh Ilmuwan Muslim Ratusan Tahun Silam

  1. ternyata begitu yah 😀
    dulu istriku juga sangat anti dengan micin, katanya bahaya
    tapi lama kelamaan, pake micin juga kalo masak 😀

    btw, bahas tentang mi instan dong, bahayanya sampe mana, di tingkat mana bisa membahayakan tubuh

    mumpung ada hubungannya dengan micin2an ini 😀

      1. lah, sekarang banyak produk ber MSG yang udah ganti MSG jadi MNG Bang xDDD aku lupa apa aja tapi udah ketemu sama beberapa produk yang gitu hahahahahaha xDDDDDDDDDDD hidup mahasiswi!!!! *eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.