Berfikir menggunakan data
Berfikir menggunakan data

Kesalahan Fatal Penulis dan Pembaca Media Sains

Posted on

Mengkonsumsi cokelat mampu mencerdaskan otak. Buah pisang dapat menambah daya ingat. Kopi membuat otak lebih cemerlang. Sering membaca berita-berita seperti itu? Yap! Setiap harinya penulis memproduksi tulisan seperti itu. Pun setiap harinya ada penggemar sains yang membagikan tulisan tersebut. Lalu bagaimana kebenaran dibaliknya? Apakah ini HOAX?

Percaya atau tidak, di zaman masih langka internet, sekitar 11 tahun yang lalu saat aku SMA, judul-judul seperti itu sudah sangat populer. Zaman internet masih sangat lambat, pop-up iklan bertumpuk, virus internet meraja lela dan blog-blog lebih banyak iklannya dibandingkan kontennya. Judul-judul yang seolah-olah fakta itu sudah banyak beredar. 

Tapi kita tidak akan membahas yang jelas-jelas HOAX. Kita akan masuk pada yang terlihat ilmiah, dan aku akan lepaskan topeng ilmiahnya. Ini sengaja aku bahas karena memang masih sangat banyak percaya-percaya saja asalkan ada “data ilmiah”. 

Data ialah Fakta? 

Belakangan ini pemerintah sedang semangat-semangatnya menggelorakan kampanye kalau berbicara harus pakai data. Benar sekali, berbicara dilengkapi dengan data itu memang bagus, tetapi data itu sendiri kan mati. 

Data itu mati, dia tidak menjabarkan apa-apa kalau tidak dibaca dan diuraikan oleh manusia yang berfikir. Data juga diproduksi oleh manusia, makanya tidak bisa dimakan mentah-mentah. Harus dilengkapi dengan cara pengambilan data tersebuth dan penafsirannya.

Makanya perdebatan di dalam pollitik selalu berakhir dengan beda pendapat karena berbeda data. Sebab produsen datanya berbeda, disesuaikan kepentingan mereka. Dan dalam setiap debat politik yang menggunakan data, mereka tidak pernah menyampaikan metode pengambilan datanya. 

Artinya datanya bisa saja benar, tetapi cara menggunakan data tersebut untuk mengambil kesimpulan bisa saja salah. 

Sebab-Akibat dan Keterkaitan

Kembali lagi ke judul-judul “ajaib” yang sudah aku sebutkan di awal. Munculnya tulisan-tulisan dengan judul “ajaib” di atas, bahkan di media-media terpercaya adalah salah satu contoh gagal paham di dalam membaca data. 

Jadi seperti ini contohnya;

“Sebuah penelitian membuktikan bahwa 85% orang yang sering mengkonsumsi cokelat memiliki kecerdasan di atas rata-rata”

Ketika seorang penulis menemukan berita ini, biasanya mereka akan langsung menuju pada kesimpulan bahwa “cokelat dapat mencerdaskan orang”. Apakah ini kesimpulan yang benar? Tunggu dulu. 

Ternyata ketika diusut, orang yang mengkonsumsi cokelat ialah orang yang tinggal di Kota, mampu membeli cokelat karena memiliki taraf hidup yang tinggi, kemudian dengan taraf hidup yang tinggi itu dia mampu membeli makanan berprotein tinggi sehingga nutrisi otaknya terpenuhi, dan dengan taraf hidup yang tinggi itu pula dia mampu membayar pendidikan yang lebih tinggi. 

Sekarang apakah penyebab dari cerdasnya dia adalah cokelat?

Yap! Itu adalah contoh keterkaitan. Artinya ada serangkaian keterkaitan antara orang yang memakan cokelat dan kecerdasan. Tetapi ini belum tentu sebab-akibat. 

Contoh lainnya misalkan:

“Sebuah penelitian membuktikan bahwa orang tua yang sering mengkonsumsi pisang memiliki daya ingat 15% lebih baik dari yang lainnya.”

Ketika terbaca oleh penulis media kemudian disimpulkan bahwa mengkonsumsi pisang bisa menambah daya ingat. 


Padahal ternyata di masyarakat, konsumen buah pisang itu identik dengan orang kalangan menengah kebawah yang dia bekerja setiap harinya di kebun, ladang dan sawah sehingga tubuhnya bergerak dan otaknya bekerja aktif. Aktifitas fisik ini membuat mereka punya daya ingat lebih dibandingkan orang tua pensiunan yang sudah tidak lagi beraktifitas. 

Gimana? Masih valid tidak kesimpulanmu?

Yap! Sampai sini kalian pasti sudah mengerti maksudku. Bahwasannya “85% orang yang sering mengkonsumsi cokelat memiliki kecerdasan di atas rata-rata” dan “orang tua yang mengkonsumsi pisang memiliki daya ingat 15% lebih baik dari yang lainnya” itu adalah fakta, benar memang. 

Tetapi bahwa cokelat memberikan kecerdasan dan pisang memberikan daya ingat ialah kesimpulan yang salah. Dan model pengambilan kesimpulan seperti ini masih sering kita lihat di laman-laman media massa profesional. 

Nah.. Bisa dikatakan sebab-akibat apabila bentuk pengambilan datanya sudah sangat spesifik. Misalkan cara pengambilan datanya percobaanya ialah “Orang makan cokelat kemudian discan aktivitas otaknya, apakah ada respon positif di bagian-bagian yang berfungsi dalam daya nalar, daya pikir ataupun daya ingat.”

Kalau seperti itu bentuk penelitiannya, maka wajar kalau disimpulkan bahwa cokelat itu membuat cerdas. 

Apa Penyebab munculnya Api?

Sekitar sebulan yang lalu, aku bermain-main dengan logika keterkaitan tetapi kupaksakan menjadi sebab-akibat.  Itu untuk menguraikan kasus Pembakaran Bendera Berlafadz “Lailahaillallah”

Tidak satu orangpun yang protes. Karena aku berbicara sesuai fakta yang terjadi. Argumenku jelas-jelas bodoh dan salah, tetapi berdasarkan rangkaian fakta yang tak tertolak. 

Jadi begini, pertanyaanya sangat sederhana “apa penyebab munculnya api?”

Untuk menjawab ini, pertama-tama kita analisa syarat terbentuknya api: 1. Pemantik (korek), 2. Gas Oksigen, 3. Bahan bakar. Secara ilmiah api hanya bisa terbentuk jika tiga hal ini ada. 

Nah.. Sekarang apakah ketiganya bisa dijadikan penyebab terbentuknya api? 

Tentu saja tidak. Manusia sudah mengetahui kalau secara alamiah di atmosfer itu terdapat gas oksigen. Artinya dimanapun tempatnya di bumi ini, api bisa terbentuk, common sense-nya seperti itu. Jadi semua orang sudah menyadari/mengakui hal ini.

Artinya sebab terbentuknya api itu tersisa dua, adanya bahan bakar dan pemantik. Keduanya ini bisa dijadikan alasan valid adanya api. 

Jadi kalau terjadi kebakaran, yang akan dijadikan penyebab kebakaran itu ya pemantik apinya, lilin, listrik konslet, atau orang dan bahan bakarnya, entah itu kayu, minyak, gas.

Misalkan karena ketidak sengajaan terjadi kebakaran akibat tuan rumah membuang sisa minyak makan di sebelah rumah kemudian ada tetangga yang membuah puntung rokok di sekitar situ. Di dalam pengadilan, tuan rumah dan tetangga, keduanya bisa dijadikan tersangka penyebab kebakaran. Tetapi mereka tidak bisa mengatakan “Loh.. Si Aco yang menanam pohon di dekat situ juga bersalah karena menambah jumlah gas oksigen penyebab kebakaran”.  

Sampai sini paham kan yak? Data dan fakta saja itu tidak cukup untuk sampai pada kesimpulan. Tetap diperlukan pemikiran yang jeli dan cerdas untuk melihat kebenaran. 

Jadi gimana? Sudah mulai terfikir khan beda dari keterkaitan dan sebab akibat?

Thanks for reading! Jangan lupa share jika artikel ini bermanfaat. 

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.