Kesetimbangan Media Online
Kesetimbangan Media Online

Kesetimbangan Media Massa di Era Internet

Posted on

Salah satu hal yang mulai aku tinggalkan di dunia maya ialah menghabiskan waktu untuk membaca berita-berita di media massa Indonesia. Bagaimanapun ramainya laman Facebook dengan berita-berita di media massa yang di-share teman-teman di Facebook, tidak akan bisa menggerakkan jariku untuk menekan tombol klik. Sebab menurutku kebanyakan media massa online telah menjadi tumpul dan bodoh. 

Aku tumbuh dan besar di Kalimantan, memang tak banyak koran maupun media massa yang dijual di sana. Trend membaca surat kabar juga masih sangat minim. Satu-satunya majalah yang menjadi langganan keluarga ialah Majalah Hidayatullah. Itu Abah yang menginvestasikan uangnya untuk membeli majalah tersebut dan mungkin hanya dia yang membacanya, atau malah enggak juga, hanya sekedar menyumbangkan uang untuk perjuangan media Islam Hidayatullah.

Maraknya pemberitaan media online yang tidak berimbang dan judul-judul yang hanya click-bait, aku jadi terpikirkan, “Mengapa media online jadi seperti itu?”. Media-media besar sekelas Komp4s, D3tik, bahkan SeNN yang pembaca hariannya mungkin puluhan juta, seringkali menggoda pembacanya dengan berita-berita yang click-bait ataupun tak berimbang. 

Gambar di atas ialah dari laman berita terkemuka di Indonesia. 

Judul memuat “Lion Air” yang memang sedang booming akhir-akhir ini, kemudian kata “presenter cantik” menyasar cowok yang hobinya lihat wajah presenter, dan isi artikelnya sama sekali tidak berkualitas dan tentu tidak berhubungan dengan Lion Air. Ini adalah satu contoh dari ribuan atau jutaan lama media online yang tujuannya hanya agar di klik oleh pembacanya. Click Bait!

Tetapi semuanya ini, hanya karena media-media online tersebut tidak punya harga diri? Sehingga pergi melacurkan informasi setiap harinya? Atau mungkin ada alasan logis lain?

Kesetimbangan Media Cetak

Media cetak menghabiskan banyak uang untuk asset-asset benda, seperti mesin percetakan, gudang, kertas dan berbagai peralatan lainnya. Hasilnya ialah 16halaman koran, atau 40halaman majalah, yang setiap rubriknya melalui seleksi dan pemilihan yang terbaik. 

Karena terbatasnya 16 halaman tersebut, maka tulisan yang disajikan oleh media cetak memiliki kualitas yang terbaik, dan memuat informasi yang benar-benar ‘sesuatu’. 

Media cetak yang gagal memberikan kedua hal tersebut akan tersingkir. Sebab pembacanya mengeluarkan uang untuk membelinya, jika informasinya tidak berkualitas atau bukanlah ‘sesuatu’ maka orang akan kecewa dan meninggalkannya. 

Semakin ditinggalkan, semakin sepi pembaca, artinya semakin kecil pula kemungkinan mendapatkan periklanan. Selama mereka tidak bekerja keras mengembalikan mutu beritanya menjadi yang terdepan, perusahaan mereka bisa tutup. 

Dengan skema tersebut media cetak otomatis menempatkan pembacanya di posisi yang tinggi. Sebab pembacanya punya tolak ukur dan standard. Uang tidak akan keluar dari saku pembaca jika media cetak tidak berkualitas, di saat yang sama, uang juga tidak akan keluar dari saku pengiklan.

Pembaca membeli informasi dari media cetak, sedangkan pengiklan membeli waktu pembaca melalui media cetak. Artinya media cetak memiliki dua bisnis, jualan informasi kepada pembaca dan jualan waktu pembacanya kepada pengiklan. Tentu saja mereka ingin mengambil sebanyak mungkin waktu pembacanya, agar dapat menjaring lebih banyak pengiklan. Tetapi lebih banyak waktu yang ingin dijaring, berarti lebih banyak halaman yang harus dicetak, artinya lebih mahal lagi biaya produksi yang harus dikeluarkan, dan lebih mahal harga yang harus dibayar pembacanya. Dengan begitu media cetak menghargai waktu dan pikiran pembacanya. 

Kesetimbangan media cetak diperoleh sebab pembacanya punya nilai tawar di depan Perusahaan Media, mereka adalah pembeli, wajib diberikan yang terbaik. 

Ketidak-setimbangan Media Online

Sekarang kita bandingkan dengan media online. Persis seperti blog ini, media online hanya perlu memiliki asset intelektual untuk menjalankan bisnisnya. Platform Online membuat publikasi jauh lebih mudah, murah dan cepat. Murahnya publikasi online jika dibandingkan dengan publikasi cetak, memiliki perbandingan yang logaritmik. 

Oleh karena itu publikasi media online tidak terbatas pada 16 ataupun 40 halaman saja. Tetapi bisa mencapat ribuan halaman perharinya. Semua tergantung kekuatan penulis media tersebut. 

Artikel yang tampil tidak lagi tersaring baik dari kualitasnya maupun level pentingnya. Publikasikan saja, toh tidak akan menambah biaya produksi secara signifikan, nanti juga ada pembacanya. 


Semakin banyak artikel, maka semakin banyak pembaca yang terjaring. Semakin banyak pembaca terjaring semakin banyak pengiklan yang membayar dan pundi-pundi uang akan masuk. 

Pembaca media online tidak mengeluarkan uang untuk membeli informasi. Oleh karenanya pembaca jarang melakukan penilaian terhadap tulisan dan informasi yang ada. Pun tidak ada rasa ketidak puasan terhadap sebuah informasi dan tulisan, sebab mereka merasa tidak mengeluarkan sepeserpun untuk mendapatkannya. 

Dengan skema ini, media online bisa saja menempatkan pembacanya pada posisi yang terendah, seperti pengemis informasi. Mereka berikan banyak informasi tapi nilainya recehan, dihamburkan berantakan di depan pembaca. Kira-kira seperti itulah gambarannya. 

Pembaca datang untuk mengemis informasi ke media online, sedangkan pengiklan datang untuk membeli waktu pembaca melalui media online. Artinya media online hanya memiliki satu bisnis, menjual waktu pembacanya kepada pengiklan. Oleh karena itu mereka akan mengambil sebanyak mungkin waktu pembacanya. 

Media online mempublish beragam berita seburuk apapun kualitasnya, setidak penting apapun informasinya. Asalkan pembacanya menghabiskan waktu di platform medianya. Sebab mengambil waktu pembacanya tidak lagi menambah biaya produksi, dan lagi pembacanya menerimanya secara cuma-cuma. 

Secara sederhana, pembaca telah membiarkan media online untuk merampas waktunya, kemudian menjualnya kepada pengiklan. Sebagai gantinya, media online memberikan informasi receh kepada pembaca, sebab toh mereka cuman pengemis informasi. 

Ketidak-setimbangan media online ini terjadi ketika pembaca tidak lagi menghargai waktunya dan tak mampu menilai informasi yang dibacanya.

Kalau kalian teliti, blog ini juga menggunakan periklanan sebagai sumber dananya. Oleh karenanya kalau kalian aku suguhi tulisan yang receh, yah maklum aja, kan kalian nggak bayar. 😛 

Kesetimbangan Media Online

Bagaimana-pun, kita tak mungkin kembali ke masa-masa media cetak. Sebab media online juga memiliki jauh lebh banyak kelebihan. 

Melihat kesetimbangan media ini, nampaknya beberapa media online mencoba memunculkan kesetimbangan media online. Mereka ingin mengembalikan nilai tawar dari pembacanya. Caranya? Pembaca harus membayar!

Yap! Jika pembaca membayar, maka media online kembali memiliki dua bisnis. Yakni menjual informasi kepada pembaca dan menjual waktu pembaca kepada pengiklan. Dengan kembalinya transaksi antara pembaca dengan media, maka diharapkan kesetimbangan media online bisa tercapai. 

Jika pembaca harus membayar untuk bisa mendapatkan informasi dari media online, maka otomatis setiap pembaca akan menakar kualitas dan level pentingnya informasi yang disajikan sebuah media online. Ketika media online gagal memenuhi dua kriteria tersebut, pembaca akan pergi, pengiklan-pun akan pergi. Artinya media online harus menyajikan informasi yang terbaik dan benar-benar penting agar pembaca dan pengiklannya tidak lari.

Namun sepertinya perjalanan ke arah sana masih sangat jauh, sehingga media-media online besar masih menggunakan model donasi. Artinya pembaca yang memiliki uang banyak akan berdonasi demi berjalannya sebuah media online tanpa pengaruh pengiklan. 

Tetapi pada dasarnya, harus ada perubahan model bisnis dari sebuah media online agar tidak sepenuhnya bergantung pada dana pengiklan. Sebab jika satu-satunya sumber dana ialah periklanan, maka seperti yang aku katakan sebelumnya, mereka akan mengambil sebanyak mungkin waktu pembacanya untuk dijual kepada pengiklan. Dan dalam perjalanannya itu mereka akan memenuhi isi kepala pembacanya dengan informasi sampah. 

Terakhir, pengiklan yang aku sebutkan bisa saja berupa partai politik, politikus dan bahkan instansi pemerintah yang merasa perlu untuk menuntun opini publik.

Thanks for reading. Bebas share!

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.