Kontroversi Bahaya Imunisasi dan Vaksin Haram | Sains dan Agama

Posted on

Seminggu belakangan ini, dunia maya cukup ramai oleh pernyataan dari salah seorang ulama MUI, Teuku Zulkarnain, terkait vaksin Rubella dan Difteri. Pokok persoalannya ialah vaksin Rubela dan Difteri ini telah dilaksanakan Pemerintah melalui Kemenkes RI sejak Desember 2017 lalu. Karena masalah Kontroversi Bahaya Imunisasi dan Vaksin Haram ini banyak ditanyakan orang, maka aku akan coba bahas dari sisi sains dan agama. Tetapi perlu diingat pendekatanku dari sisi agama memang tidak akan begitu jauh karena bukan kompetensiku.

Sebenarnya, gerakan antivaksin dari kalangan orang muslim dengan alasan dasar permasalahan kehalalan bukanlah hal yang baru. Permasalahan ini seingatku sudah pernah muncul sejak aku masih SD. Beberapa guru pernah mengatakan hal senada, hanya saja kali itu dikatakan bahwa vaksin berasal dari kera (monyet). Jadi ini adalah isu berulang, yang terus direvisi.

Imunisasi Haram?
Imunisasi Haram?

Kontroversi Bahaya Imunisasi

Kalau di kalangan muslim, gerakan anti-vaksin selalu diidentikan dengan status halal-haram. Sedangkan di kalangan non-muslim (negara barat), gerakan anti-vaksin dipopulerkan dengan ide berbahaya bagi kesehatan.

Karena sekarang sudah era informasi dan teknologi, bergabunglah dua komponen alasan untuk gerakan anti-vaksin ini. Isunya berkembang menjadi “Vaksin itu berbahaya dan haram”. Tidak bisa dipungkiri, dalam proses produksinya, mungkin ada vaksin yang haram. Aku akan berikan penjelasannya nanti.

Sementara itu kita bahas masalah bahaya imunisasi, sebuah isu yang sangat meresahkan ibu-ibu muda yang menghabiskan banyak waktunya membaca media sosial dan media online.

Konspirasi WHO dan Perusahaan Farmasi

Berdasarkan data dari WHO, vaksin telah menurunkan kasus sakit campak hingga 84% pada rentang 2015-2016 dan rubella hingga 97% pada rentang 2000-2016. Kedua penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian pada anak-anak.

Konspirasi? Pasti banyak informasi yang beredar menyatakan “Ini adalah konspirasi WHO dan perusahaan farmasi”. Well.. Pertama-tama, data yang dirilis dari WHO tersebut merupakan hasil permodelan matematis dengan menggunakan sampling. Metode ini telah dikembangkan oleh matematikawan sejak kalkulus ditemukan (Sir Isaac Newton, 1643-1727), artinya jika data dari WHO ini terdapat kesalahan, maka matematikawan akan berlomba-lomba mengoreksi data tersebut karena tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Di dalam sains, kami menghargai yang namanya research, penelitian yang dilakukan berulang untuk membuktikan kebenaran dari sebuah data ataupun teori. Ini berlaku juga untuk perhitungan dan permodelan yang dilakukan berulang untuk menemukan kebenaran (keadaan sebenarnya).

Jika ada kesalahan ataupun manipulasi dari WHO, maka matematikawan dari berbagai negara akan mengetahuinya dengan mudah sebab metodologi untuk menentukan data tersebut dipahami oleh banyak saintis dan mengoreksinya merupakan suatu hal yang prestisius (sangat membanggakan) bagi matematikawan. Sekali saja ada yang menyampaikan argumennya mengenai kesalahan data WHO, maka seluruh jurnal dan media internasional akan mewawancarai dan menyebarkan hasilnya.

Salah satu contoh nyata-nya ialah kisah tentang seorang saintis bayaran di perusahaan rokok bernama Jeffrey Wigand. Dia mempublikasikan hasil penelitiannya tentang bahaya rokok, pernyataan ini didengar oleh jurnalis Lowell Bergman.

Hasil penelitian Wigand yang mengungkapkan bahaya rokok tersebut menyebabkan chaos (kekacauan) di masyarakat dan pemerintahan Amerika, sebab mereka memiliki produsen rokok multinasional yang menyumbang pajak dan menyerap tenaga kerja, namun pada akhirnya kebenaran didengar oleh masyarakat dan regulasi tentang rokok berganti total di Amerika. Perjuangan Jeffrey ini telah difilmkan dengan judul “The Insider” berdasarkan kisah nyata.

Cerita yang sama juga pernah terjadi ketika perusahaan kimia pestisida bekerja sama dengan pemerintah Amerika. Melihat fakta kerusakan alam dan lingkungan yang terjadi, seorang ahli biologi Rachel Carson menuliskan sebuah buku legendaris berjudul “Silent Spring“. Buku ini berisi puluhan tahun observasi dan penelitian lingkungan mengenai dampak penggunaan bahan kimia di Amerika.

Buku tersebut mendapat sorotan dari media dan berhasil memaksa Pemerintah Amerika untuk mengubah regulasi penggunaan bahan kimia untuk mengontrol lingkungan. Dari buku ini pula sebuah organisasi publik EPA (Environmental Protection Agency) berdiri untuk terus menyuarakan keamanan lingkungan dan kesehatan hingga saat ini.

Artinya, saintis tidak akan tinggal diam ketika ada fakta buruk yang disembunyikan dari publik. Hal ini sudah terjadi sejak Galileo, bahkan mungkin sejak peradaban islam dahulu.

Kembali ke konspirasi, hingga sekarang, tidak ada matematikawan ataupun saintis yang menyatakan argumen yang berbeda dengan data WHO. Justeru sebaliknya, berbagai jurnal mengaminkan bahwa vaksin menurunkan angka kematian akibat penyakit-penyakit ganas tersebut, sangat bersesuaian dengan data WHO.

Akibat Imunisasi

Berita lainnya yang tersebar ialah mengenai kematian ataupun sakit-sakitan akibat dari imunisasi. Pada tulisan-tulisan yang tersebar di dunia maya, ada yang mengatakan bahwa anak mati akibat imunisasi, dan yang paling populer ialah kejadian Siswi Meninggal di Karawang Setelah Vaksin Difteri.

Berdasarkan berbagai sumber, disebutkan kalau runtutan kejadian meninggalnya siswi ini memang tepat setelah penyuntikan vaksin difteri. Namun salah satu dokter menyebutkan bahwa berdasarkan gejala-gejalanya, penyebab kematiannya ialah diare. Sebab vaksin yang diberikan ialah vaksin suntik, maka tidak mungkin ada gejala bab (buang air besar), gejala kematiannya sendiri lebih meyerupai diare yang tidak ada hubungannya dengan vaksin.

Baiklah. Kematian siswi tersebut ialah fakta! Siapapun tidak dapat memungkiri. Tetapi kembali lagi, di dalam sains, kita tidak bisa menyimpulkan secara langsung bahwa suntik vaksin ialah penyebabnya. Ketika diajukan skema otopsi, sayangnya orang tua siswi tersebut tidak menyetujui. Akhirnya tidak bisa disimpulkan penyebab kematiannya.

Selain peristiwa kematian Siswi di karawang tersebut, ada kesaksian lainnya tentang vaksin yang tersebar di dunia maya.Banyak yang menyuarakan bahwa seorang ibu punya anak yang divaksin, anak ini kemudian sakit-sakitan setelah di vaksin, ketika punya adik, adiknya tidak divaksin, ternyata adiknya itu tidak sakit-sakitan dan lebih sehat. Artinya vaksin membuat anak sakit-sakitan dan kekebalan tubum melemah.

Muncul tanda tanya, apakah ini benar? Ada banyak orang yang secara langsung menuduh hal tersebut ialah HOAX.

Di dalam sains, kalian harus berusaha menghapuskan keragu-raguan itu hingga angka terkecil. Cara mengaitkan sebuah peristiwa sebagai sebab-akibat tidak bisa dengan asal-asalan, cocoklogi ataupun gotak-gatuk. Sains memastikan suatu kebenaran itu, membuat polanya dan memprediksinya. Tak cukup sampai disitu, suatu cabang sains dalam ilmu statistika berusaha memberikan persentase kebenaran prediksi tersebut.

Nah. Pada kasus kakak divaksin sedangkan adiknya tidak, mengapa lebih sehat adiknya? Pertama-tama coba jawab pertanyaan saya ini “Siapa yang menjamin bahwa Si Kakak akan sehat-sehat saja tanpa vaksin?” Jika ada yang menceritakan kejadian vaksin kakak-adik begini aku akan jawab “Untung kakaknya divaksin, kalau enggak, jangan-jangan dia bakalan meninggal lebih cepat karena kena virus Campak?”.

Kakaknya sudah divaksin, tetapi sakit-sakitan, sedangkan adiknya tidak divaksin tetapi sehat-sehat saja. Bisa jadi itu hanyalah kebetulan saja, maksudnya bukan disebabkan oleh vaksin. Untuk memastikan penyebab kenapa Si Kakak sakit-sakitan, harus dilakukan penelitian kedokteran yang serius.

Kalau sering membaca biografi orang terdahulu, atau cerita-cerita zaman dahulu, kejadian dimana dalam satu keluarga, Si Kakak meninggal di usia dini sedangkan adikya sehat-sehat saja, ataupun Si Adik meninggal di usia dini sedangkan Kakaknya sehat-sehat saja, merupakan kejadian yang wajar. Itulah yang dampak dari penyakit campak, rubella, dll, yang diperangi dengan vaksin pada zaman sekarang.

Maka aku ulangi, pada kejadian tersebut, untung saja Si Kakak divaksin, kalau enggak bisa saja sudah meninggal sekarang ini.

Kenapa aku punya keyakinan penuh bahwa penyebab sakit-sakitannya Si Kakak bukanlah vaksin? Dasarnya ada pada sains! Yap. Vaksin yang digunakan tersebut telah diujikan pada sample dengan sangat bertahap dan hati-hati untuk memastikan keamanannya. Membuat suatu vaksin memerlukan penelitian lebih dari 15 tahun! Dari waktu yang panjang itu, sebagian besar dihabiskan karena proses untuk memastikan keamanannya bagi manusia. Finalnya ialah pada medical use dan clinical test.

Perjalanan panjang pembuatan vaksin ini bukanlah perkara main-main ataupun eksperiment trial and error. Ini sains dimana mekanisme kerjanya dan seluruh dampak penggunaanya dalam tubuh harus difahami terlebih dahulu sebelum mencapai medical use(Penggunaan medis) ataupun clinical test(Uji klinis).

Di dalam suatu percobaan, akan diperoleh kesimpulan sebenarnya jika semakin banyak sampel yang diuji. Artinya semakin banyak sampel yang diuji maka semakin mendekati kebenaran kesimpulannya itu. Dalam hal ini, vaksin telah melalui ribuan eksperiment untuk menguji keefektifannya dan dampaknya bagi manusia, dari semua itu tidak ditemukan adanya masalah dan bahaya sehingga bisa dilakukan uji klinis (clinical test). Setelah tahapan uji klinis itulah baru disebarkan ke masyarakat/rumah sakit. Itupun hitungannya negara maju seperti Amerika dan Eropa yang terlebih dahulu menggunakan vaksin tersebut.


Tetapi pada dasarnya, tidak ada produk kesehatan yang berfungsi pada segala kondisi. Ada saja kasus tertentu yang memberikan hasil tidak sesuai dengan harapan. Ini terjadi juga pada vaksin. Bisa saja ada orang yang tubuhnya bereaksi keras terhadap vaksin, bisa saja karena penyakit lain yang diderita, kebiasaan hidup, ataupun kelainan genetik. Walaupun angkanya pastilah sangat-sangat kecil (kurang dari 1%) tetapi tetap harus diperhitungkan. Itulah pentingnya seorang dokter mengetahui catatan kesehatan pasiennya sebelum divaksin.

Kemudian ketika ada kejadian di luar kendali setelah seseorang menerima vaksin, hal ini juga diatur dalam dunia medis yang disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi). Singkatnya ialah, ada beberapa kasus dimana seseorang memberikan respons berbeda ketika diimunisasi. Respons normalnya ialah demam pada jangka waktu seminggu setelah imunisasi, ini karena proses produksi antibodi terhadap virus. Selengkapnya, bisa kalian baca di link ini.

Kalau kalian masih punya pertanyaan lainnya, silahkan ke instagram-nya dokter yang menangani kasus imunisasi langsung : https://www.instagram.com/p/Bl9GPX9g5fr/

 

Apakah Imunisasi Halal?

Di Indonesia Halal!

Mari kita review kembali pada pernyataan perwakilan dari MUI, Teuku Zulkarnain, bahwa imunisasi terbaru untuk Rubella dan Difteri belum mendapatkan sertifikat halal dari MUI.

Pernyataan ini menjadi angin segar bagi aktivis anti-vaksin. Mereka dengan semangat sentosa langsung memonopolinya dengan menyebarkan bahwa ini haram dan tidak dianjurkan MUI. Diimbuhilah dengan tambahan berasal dari babi, monyet, rahim bayi, dan berbagai kebohongan lainnya.

Padahal belum mendapat sertifikat halal itu sama sekali bukan haram. Sama seperti penjual gorengan di sebelah rumahmu yang di warungnya tidak ada sertifikat halal MUI. Lah tapi kan ini cuman tahu goreng? mana mungkin haram? Yah gitu deh.

Ini yang perlu kalian pahami; Pernyataan Ust. Teuku Zulkarnain di TV ini spesifik untuk dua vaksin saja Rubella dan Difteri, jadi jangan di generalisir menjadi seluruh vaksin itu belum dapat sertifikasi Halal MUI.

Di Indonesia, terdapat satu UUD tentang jaminan produk halal (JPH). Itulah yang memicu pernyataan dari Ust. Teuku Zulkarnain bahwa vaksin rubella dan difteri belum mendapatkan sertifikat halal dari MUI.

Menurut saya beliau sedang menuntut agar Pemerintah, melalui Kemenkes harus mengikuti UUD yang berlaku dengan menyelesaikan sertifikasi produk halal dari MUI baru kemudian memberikan produknya (berupa vaksin ke masyarakat). Jangan melangkahi suatu prosedur hukum dengan memberikannya langsung ke masyarakat tanpa ada pengawasan MUI terkait kehalalan vaksin yang diberikan.

Opini pribadi saya; memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada sinisme politis dalam penyampaian dari Ust. Teuku Zulkarnain yang terlalu menggebu-gebu untuk menekankan pada Kemenkes agar memperoleh sertifikasi halal MUI. Ini bisa difahami karena belakangan ini ada interaksi yang kurang baik antara Pemerintah dengan beliau.

Kemenkes sendiri melalui perwakilannya mengatakan (di banyak media) bahwa vaksin yang digunakan bisa dipastikan halal, karena vaksin yang sama telah digunakan di Arab Saudi, India, dan banyak negara muslim lainnya. Well.. Menurut saya permasalahannya bukan itu, tetapi pelanggaran regulasi yang dilakukan oleh kemenkes itu yang harus diluruskan. Jika saja komunikasi publik dari Kemenkes bagus, maka mereka harusnya mengambil langkah untuk meminta maaf kepada masyarakat dan MUI, kemudian memproses sertifikasi Halal untuk vaksin rubella dan difteri.

Dengan begitu setelah mendapatkan sertifikasi halal nantinya, masyarakat tidak ragu-ragu untuk menerima vaksin.

Jadi tidak perlu sampai diobok-obok oleh para aktivis anti-vaksin dengan isu HOAX murahan dan tulisan tanpa bukti dan dasar.

Vaksin dari Babi?

Yap! Betul sekali jika disebutkan bahwa ada vaksin yang berasal dari babi!

Berdasarkan yang aku baca, beberapa vaksin memang dikembangkan dengan menggunakan sel babi sebagai tempat tumbuhnya. Tetapi ini di tahap penelitiannya saja.

Jadi begini, contohnya ada vaksin yang berasal dari babi (proses produksinya menggunakan elemen dari babi). Misalkan penelitiannya menggunakan sel babi, kemudian setelah uji klinis berhasil, diproduksi massal dengan metode yang sama (menggunakan sel babi), kemudian disebarkan di Jepang, Amerika, atau negara nonmuslim lainnya, tentu tak ada masalah.

Namun ketika akan masuk ke negara muslim, pasti akan mendapatkan tuntutan kehalalan produk, maka vaksin tidak bisa masuk ke negara tersebut. Mengetahui hal ini, produsen vaksin (perusahaan farmasi dan kesehatan) akan berlomba-lomba memproduksi vaksin yang sama dengan standard halal dalam proses pembuatannya. Setelah berhasil barulah mereka kembali menawarkan produk tersebut ke negara muslim.

Artinya, vaksin yang sama jenisnya, bisa saja berbeda proses produksinya, ada yang dengan kandungan sel babi, ada pula diproduksi dengan proses yang halal, sehingga bisa digunakan di negara muslim. Adanya regulasi pemerintah terkait produk halal inilah yang bisa memfilter vaksin haram sehingga hanya yang halal yang bisa diberikan ke masyarakat.

Untuk vaksin rubella dan difteri yang akhir-akhir ini dipermasalahkan, sudah dijelaskan oleh perwakilan dari Kemenkes (dan banyak dokter lainnya) bahwa pengembangannya dilakukan dengan sel telur ayam dan plasenta manusia.

Kemudian Please deh jangan percaya lagi kalau ada yang bilang bahwa plasentanya dari daging bayi yang mati kemudian diiris dan disuntikin virus. Itu hanyalah imajinasi dan hayalan aktivis anti-vaksin yang belum sekolah kedokteran.

Kesimpulan akhirnya ialah, dengan adanya UUD JPH (Jaminan Produk Halal) maka seharusnya masyarakat bisa bernafas lega bahwasannya vaksin-vaksin yang masuk di Indonesia pasti aman, halalan toyyiban. Namun jika memang ragu-ragu akan kehalalannya, silahkan hubungin MUI dan tanyakan langsung (atau mungkin informasinya ada di web?).

Kejadian tentang pernyataan Ust. Teuku Zulkarnain seharusnya tidak boleh terjadi lagi, sebab ini benar-benar merugikan Kemenkes sebagai instansi yang bertanggung jawab untuk menyebarkan vaksin dan imunisasi di masyarakat. Pemerintah harus lebih berhati-hati dan tertib dalam menjalankan tugasnya, menyelesaikan setiap tahapan baik itu administratif maupun regulasi tanpa menyalahi wewenangnya.

Bagi kalian yang memutuskan untuk memberikan imunisasi Rubella dan Difteri yang belum mendapatkan sertifikat halal MUI, InsyaAllah halal saja sebab sumber dari vaksinya sendiri sama dengan yang di Arab (dengan standard halal yang kurang lebih sama). Sedangkan kalian-kalian yang masih ragu-ragu, silahkan menunggu sertifikasi halal MUI untuk vaksin rubella dan difteri, InsyaAllah akan segera.

Intinya ialah jika kalian ragu-ragu mengenai kehalalannya tanyakan kepada ahlinya, jangan asal saja mempercayai tulisan ataupun pendapat dari sumber-sumber tak jelas.

Terakhir, semoga saja tulisan ini bisa memberikan solusi bagi teman-teman yang masih ragu ataupun tidak tahu tentang Kontroversi Bahaya Imunisasi dan Vaksin Haram. Jika artikel ini dirasa menjawab pertanyaan kalian dengan masuk akal, silahkan di share agar lebih banyak teman yang bisa belajar. Terimakasih.

Pustaka
https://ourworldindata.org/vaccination
https://www.nature.com/articles/s41467-018-04085-z
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1934961/
https://www.arrahmah.com/2018/08/01/lagi-klarifikasi-mui-terkait-kehalalan-vaksin-rubella/

 

 

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

One thought on “Kontroversi Bahaya Imunisasi dan Vaksin Haram | Sains dan Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.