Kronologis dan alasan pembakaran bendera tauhid
Kronologis dan alasan pembakaran bendera tauhid

Kronologis dan Alasan Pembakaran Bendera Berlafadz “Laailahaillallah”

Posted on

Tepat satu minggu yang lalu publik dunia maya dibuat ricuh oleh aksi pembakaran bendera hitam yang berlafadzkan “Laailahaillallah”. Video ini mengundang komentar yang pro dan kontra. 

Tetapi nampaknya kasus ini tidak begitu saja berhenti di dunia maya, ada aksi lanjutan dari beberapa ormas, bahkan ada tindakan dari Pak Wakil Presiden untuk menyatukan lima organisasi Islam besar di Indonesia. 

Masalah yang nggak kalah ricuhnya ialah penangkapan Kang Uus sebagai sosok yang membawa bendera tersebut ke jalan. Orang-orang mempertanyakan tindakan Aparat Kepolisian yang menangkap Si Pembawa bendera. Alasannya ialah jika tak ada yang membawa bendera, maka tidak akan ada peristiwa pembakaran, pun tidak akan ada video yang memantik kreatifitas para komentator dunia maya. 

Tetapi Pihak Kepolisian maupun pemberitaan manapun tidak memberikan kronologis yang lebih mendasar, yang lebih elementer. Karena itu sebagai aktivis dunia maya, aku akan paparkan kronologis dan alasan terbakarnya bendera tersebut:

Pertama-tama, sebelum membakar bendera mereka membakar kertas putih. Kertas ini memiliki susunan polimer selulosa yang sangat mudah terbakar. Mengingat metodenya, maka ini adalah reaksi pembakaran yang berantai.

Bendera tersebut kemungkinan besar merupakan polimer campuran dari Nilon dan Selulosa. Keduanya merupakan polimer rantai karbon dengan titik api rendah. Sehingga dapat dengan mudah terbakar dipicu oleh reaksi pembakaran kertas. 

Korek api yang digunakan menggunakan gas butana yang sangat mudah terbakar dipantik oleh percikan api dari batu api ataupun pemantik listrik kecil. Percikan api yang dihasilkan kemudian membakar gas butana dengan reaksi:

$\ce{C4H10 + O2 —> CO2 + H2O}$

Setelah itu kertas putih yang merupakan polimer selulosa, disulut dengan api yang dihasilkan dari gas butana tersebut, sesuai reaksi:


$\ce{(C6H10O5)n + O2 —> CO2 + H2O}$

Terbakarlah kertas putih, kemudian disulutkan juga bendera hitam bertuliskan lafadz “Lailahaillallah” yang merupakan serat campuran nilon dan selulosa. Komponen selulosanya akan mengalami reaksi yang sama dengan selulosa pada kertas sedangkan, nilon ialah polimer amida, maka reaksinya ialah:

$\ce{(C12H22N2O2)n + O2 —> CO2 + HCN + NH3 + H2O}$

Di dalam ilmu kimia, komponen di sebelah kiri merupakan reaktan atau pereaksi sedangkan di sisi sebelah kanan ialah produk hasil reaksi.  

Jadi dengan mempelajari tiga reaksi berantai tersebut, kita bisa mengetahui penyebab terjadinya pembakaran ialah adanya kandungan Oksigen (O2). Artinya penyebab terbakarnya bendera ialah karena tingginya kandungan oksigen di udara yang mencapai 20,9%. Oksigen ini ialah komponen yang harus ada dalam setiap pembakaran, masih ingat kan percobaan lilin di dalam gelas?

Ya! Walaupun ada pemantik api, dan bahan bakar, jika jumlah oksigen di udara terlalu sedikit, maka tidak akan terjadi persitiwa pembakaran. 

Oksigen yang ada di udara sebagian dihasilkan oleh fotosintesis tumbuhan. Maka tingginya kandungan oksigen di Garut yang membuat peristiwa pembakaran bendera dapat terjadi ialah berasal dari banyaknya pepohonan dan tumbuhan di sana. Masyarakat yang menanam pohon harus disalahkan, dan pihak manapun yang melestarikan pepohonan juga bersalah. 

Kronologis dan alasan pembakaran bendera berlafadz “Laailahaillallah” yang aku jelaskan ini valid secara ilmiah. Jika kalian bawa ke kampus manapun di dunia pasti akan diterima kebenarannya.

Oleh karena itu jika tidak ingin terjadi pembakaran bendera, maka harus dihilangkan penyebab paling elementernya yaitu gas Oksigen di udara Garut. Bahkan jika tidak ada gas Oksigen di udara, oknum pembawa bendera dan pembakar bendera tidak akan ada. Sebab manusia tidak ada tanpa gas oksigen.

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.