Biografi Nurtanio – The Habibie’s Senpai

Posted on

Jika pertama kali mendengar nama “Nurtanio” apa yang terlintas di pikiran kalian? Apa tidak ada gambaran? Baiklah bagaimana kalau “Industri Pesawat Terbang Nurtanio” ? Emm.. beberapa dari kalain mungkin sudah mulai terpikirkan, “Loh bukannya Industri Pesawat Terbang Nusantara IPTN?”. Nah dari sini awal kenapa aku menggali sosok Nurtanio – The Habibie’s Senpai. Mari simak ulasan pendek untuk lebih kenal dengan sosok Nurtanio di bawah ini:

Aku sematkan nama presiden RI ke-3 di dalam judul “Nurtanio – The Habibie’s Senpai” untuk menjelaskan bahwa kita akan berbicara tentang industri penerbangan. Jika menggunakan nama Nurtanio saja, aku rasa tidak akan cukup untuk membuat kalian tahu isi utama artikel ini.

Sedangkan The Habibie’s Senpai itu berasal dari gabungan Bahasa Inggris dan Jepang yang diartikan “Kakak Tingkat” atau “Senior” dari Habibie. (note: Senpai = Senior/Kakak Tingkat). Penggunaan bahasa Jepang ini bukan hanya karena kata “Senior Habibie” terasa janggal, namun juga karena sosok Nurtanio memiliki latar belakang pendidikan di Kogyo Senmon Gakko pada era penjajahan Jepang. Sekilas begitulah jalan pikiran munculnya judul di atas.

Nah.. Tulisan ini sebenarnya tidak sengaja menyita waktuku, karena awalnya aku ingin menuliskan komparasi tentang Industri Pesawat RI dengan Industri Kojima Jeans di Jepang. Tapi ketika membaca sejarah awal bahwa IPTN itu awalnya bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio, aku langsung terpikirkan “Hah? Nurtanio sapa yak?”. Akhirnya setelah baca dan menggali informasi pikiranku jadi “Gilak ni orang! Pembaca Mystupidtheory yang pembelajar harus tahu sosok dia!”.

Jadi artikel yang aku rencanakan di awal, harus digeser sedikit jadwal penulisannya, sebab orang ini sangat keren!

 

Nurtanio Pringadisuryo

Nurtanio - The Habibie's Senpai
from: wikipedia.org

Pada tahun  1923, di Kandangan, Kalimantan Selatan, seorang Nugroho Pringadisuryo sedang berbahagia perihal kelahiran anak ketiganya. Pria asal semarang ini kemudian memberikan nama Nur-Tani-O pada anaknya dengan harapan agar kelak menjadi seorang petani yang bekerja keras.

Bernama lengkap Nurtanio Pringadisuryo, rupanya nama belakang yang disandangnya itulah yang digadangnya, tak sedikitpun ketertarikannya pada bidang pertanian, ia justeru mengikuti jejak keluarga Pringadisuryo dalam mendalami bidang keteknikan. Kebetulan ayahnya ialah salah satu kepala dalam instansi keteknikan (Semacam PU).

Ketertarikannya pada dunia aeromodelling telah ditunjukkan sejak usia remaja. Saat usia 17 tahun, ia telah berkorespondensi dengan seorang mahasiswa THS (ITB sekarang) bernama Wiweko Supono yang nantinya menjadi tim-nya dalam mengawali pengembangan industri pesawat terbang di Indonesia.

Baca Juga: Ilmuwan Legendaris Dunia dalam Uang Kertas

 

Kogyo Senmon Gakko

Pada era penjajahan Jepang, Nurtanio mendengar didirikannya Kogyo Senmon Gakko atau Sekolah Tinggi Keteknikan, dengan jurusan penerbangan. Dengan tekad untuk belajar tentang teknik dan aeromodelling, ia berangkat ke Surabaya menempuh pendidikan tersebut.

Namun dalam pengakuannya, dia dan kawan-kawan hanya disuruh mendorong dan membersihkan pesawat saja di sekolahnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sebuah klub riset penerbangan bernama Junior Aero Club, JAC. Walaupun mampu belajar bersama sahabatnya di JAC, tetapi karena dirasa merugikan, mereka melarikan diri dari pendidikan.

Di sekolah inilah, ia bertemu dengan guru olahraga yang juga penggemar dan pelajar bidang aeromodelling bernama Iswahyudi (Namanya dijadikan nama Lanud Iswahyudi di Maospati, Madiun, Jatim) dan R. J. Salatun yang kemudian selalu menjadi partnernya di TNI.

 

Karya-Karya Nurtanio dan Tim-nya

Glider NWG-1

Setelah masa awal kemerdekan, Nurtanio memutuskan untuk bergabung dengan TKR bagian penerbangan, kemudian masuk dalam TNI AU dengan pangkat Opsir Muda Udara II. Di tempat inilah ia bertemu dengan sahabat pena-nya Wiweko Supono. Mereka berdua kemudian dipindah tugaskan ke Pangkalan Udara Maospati dan bekerja di bengkel pesawat yang terkenal dengan nama Gudang Kapuk.

Di tempat barunya inilah Nurtanio bersama dengan sahabatnya mencetak sejarah dengan membuat pesawat beripe Zoglin atau pesawat layang pertama buatan Indonesia yang diberi nama Glider NWG-1. Nurtanio Wiweko Glider – 1 (NWG-1) ini merupakan pesawat asli buatan Indonesia seluruhnya.

Material kerasnya ialah Kayu Jamuju yang mereka ambil di Tretes, bagian sayapnya dari kain blacu dan pelapisannya menggunakan bubur cingur pengganti thinner. Hingga saat ini, NWG-1 ialah satu-satunya pesawat yang desain, bahan, hingga mesin seluruhnya merupakan buatan Indonesia.

Pesawat ini menjadi awal mula penarik minat pemuda-pemudi Yogyakarta pada dunia penerbangan sekaligus digunakan sebagai alat ujian bagi para Kadet Penerbang TNI AU yang akan disekolahkan di luar negeri.

Melihat kinerja yang sangat baik dari tim angkatan udara ini, maka bangkitlah optimisme pada dunia penerbangan dalam negeri. Kemudian pemimpin dan politisi negeri membawa optimisme ini dalam bentuk cita-cita membuat Industri Penerbangan Komersial Indonesia.

Akhirnya Nurtanio beserta kawan-kawannya disekolahkan lagi di FEATI (Far Eastern Air Transport Incorporated) yang berlokasi di Manila, Filipina. Ia memperoleh gelar Bachelor Of Aeronautical Science. (Setelah meninggal, ia memperoleh gelar Doctor Honoris Causa, yang diterima oleh istrinya).

Sikumbang, Kunang-Kunang dan Belalang

Karya Nurtanio, Belalang, Sikumbang, Gelatik
Karya Nurtanio, Belalang, Sikumbang, Gelatik

Sekembalinya dari Filipina, sekitar 1948, Indonesia merdeka, dan Belanda sudah menyerahkan pangkalan-pangkalan udara Andir ke pemerintah Indonesia. Nurtanio langsung mendapatkan tugas menjadi Kepala Depot Perawatan di Andir.


Di sinilah dimulainya kepemimpinan gemilang Nurtanio untuk mewujudkan mimpinya, berkeliling dunia dengan menggunakan pesawat full buatan Indonesia. Langkah pertamanya ialah mengumpulkan kawan-kawannya dari Gudang Kapuk untuk mulai membuat karya baru.

Pada tahun 1954, Nurtanio berhasil membidani terlahirnya pesawat all metal pertama Indonesia bernama Sikumbang. Pesawat ini mampu diterbangkan oleh penerbang lokal, bahkan Nurtanio sendiri karena selain ahli aeronautika ia juga adalah seorang penerbang (pilot).

Tak berhenti sampai di situ, tim Nurtanio juga menghasilkan dua produk pesawat lainnya, yakni Kunang-kunang dan Belalang.

Gelatik

Karya berikutnya dari Nurtanio  ialah munculnya sebuah pesawat pertanian PZL-104-Wilga yang dananya risetnya berasal dari Pemerintah Polandia. Pesawat ini kemudia diberi nama Gelatik oleh Presiden Soekarno.

Dana riset yang cukup banyak dari Gelatik ini kemudian dialihkan oleh Nurtanio ke dalam pembuatan LAPIP (Lembaga Persiapan Industri Penerbangan). Dari lembaga inilah asal mula IPTN, Industri Pesawat Terbang Nurtanio.

Pengembangan LAPIP ini sendiri sangat sulit karena masa itu ialah krisis ekonomi, sehingga kondisi baik dari pendanaan untuk riset maupun gaji karyawan tidak dapat dipenuhi perusahaan. Bahkan sempat membuat heran pemerintah Polandia ketika perusahaan kosong akibat pekerjanya mengantri untuk beli minyak tanah murah.

 

Pengembangan Riset Aeronautika

Setelah Gelatik, fokus utama dari Nurtanio ialah pada pembentukan industri pesawat terbang. Ini ia awali dengan penyediaan maintance, kemudian beralih ke suku cadang dan masuk ke pembuatan pesawat. Pendekatan ini sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh Pak B J Habibie yang mengutamakan pembangunan pesawat terlebih dahulu.

Tantangan lainnya dari LAPIP ialah utuk mendidik tenaga ahli di bidang aeronautika yang jelas-jelas tak mudah. Nurtanio mengambil anak-anak lulusan STM yang kemudian di didik untuk belajar aeronautika di LAPIP. Ajang unjuk gigi pertama dari anggota LAPIP ini adalah saat proyek gabungan antara AURI dan ITB yang disebut PRIMA (Proyek Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal).

Dibuatlah Roket Ilmiah Kartika I yang merupakan Roket Sounding Ke-2 di negara Asia-Afrika yang berhasil merekam sinyal-sinyal satelit cuaca. (Roket yang pertama berasal dari Jepang). Keseluruhan pembuatan dan komponennya ialah buatan anak dalam negeri.

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Satelit

 

Arev – Akhir Hidup Nurtanio

Kecintaan dan obsesi seorang Nurtanio pada dunia aeronautika sangatlah dalam. Cita-citanya untuk ntuk bisa terbang keliling dunia dengan pesawat made in Indonesia bukanlah mimpi di siang bolong, ataupun isapan jempol semata.

Tak puas dengan Gelatik yang fungsi utamanya dalam bidang pertanian (terutama penyemprotan lahan), Nurtanio diam-diam menyiapkan Arev, singkatan dari Api Revolusi. Dalam curhatnya kepada stafnya:

“Jangan bilang-bilang ke orang-orang dahulu. Pesawat ini nanti akan diberi nama Arev (Api Revolusi) dan dipakai untuk terbang keliling dunia. Penerbangnya saya dan Bob (Budiarto Iskak).”

Melengkapi pembuktian betapa kecintaan dan keseriusannya adalah legenda dalam bidang aeronautika, pada percobaan penerbangan Arev, terjadi kebakaran di pesawat, dan Nurtanio meninggal sebagai pilot dalam kejadian tersebut.

Mengenang jasanya, ketika dimantapkannya LAPIP menjadi sebuah perusahaan industri, diberilah nama Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang kemudian dipimpin oleh Bahrudin Jusuf Habibie sebagai Direktur Utama, pada tahun 1976.

Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian beralih namanya menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara, namun assetnya di Amerika masih mengenal nama IPTN sebagai Industri Pesawat Terbang Nurtanio.

Alasan mengapa Nurtanio tak seterkenal Habibie salah satunya ialah mereka hidup dalam arus informasi yang berbeda. Saat mudanya, Habibie disorot oleh kamera media, sementara Nurtanio disorot senapan Belanda.

Jika di negara luar, orang-orang begitu bangganya dengan innovator sekelas Nikola Tesla di Serbia, Thomas Alfa Edison di Amerika, dan Kikunae Ikeda di Jepang, maka seharusnya nama Nurtanio Pringgoadisuryo membumi di Indonesia sebagai inovator penerbangan legendaris.

Anak-anak kecil harusnya dikenalkan pada sosok pembuat pesawat layang all made in Indonesia dan juga otak dibalik 5 pesawat buatan Indonesia pertama ini. Untuk menanamkan bahwa peri pengabul mimpi itu bernama inovasi dan kerja keras.

Thanks for reading, mari berdiskusi dengan pikiran terbuka di komentar. 🙂

Reff:

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Dirgantara_Indonesia
  • http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/nurtanio-pringgoadisuryo-perintis-yang-kesepian/1
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Nurtanio_Pringgoadisuryo
  • http://www.mediaindonesia.com/index.php/news/read/126598/1985-nurtanio-jadi-iptn-1/2017-10-11
  • https://www.voaindonesia.com/a/industri-pesawat-terbang-nusantara-di-amerika/3610476.html
Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

2 thoughts on “Biografi Nurtanio – The Habibie’s Senpai

  1. waw aku bari tahu loh. bahwa ada pemuda indonesia bernama Nurtanio yang menjadi sosok yang berpengaruh dalam penciptaan pesawat di Indonesia. Bangga banget sama senpai ini wkwkwkw (otaku banget kayaknya).
    Apalagi pengembangan pesawat AREV. Beliau juga berkolaborasi dengan ahli teknik Jepang dulunya. Luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *