Rahasia Pendidikan Matematika Anak di Jepang

Posted on

Negeri sakura ini sudah sangat dikenal di seluruh dunia karena pendidikan karakter anak-anaknya yang begitu mandiri dan sopan. Namun selain sopan, anak-anak Jepang juga dikenal sangat cerdas di bidang matematika dan ilmu alam lainnya. Mereka punya kompetisi khusus perhitungan cepat di level SD, dan itu menghitungnya sangat cepat, mengalahkan pemegang kalkulator. Apa rahasia pendidikan matematika anak di Jepang? Mari simak pembahasanku di bawah ini:

Salah satu hal yang aku sukai di Jepang ialah masuk toko buku, lihat-lihat buku fotografi, buku seni kemudian keluar dengan tangan kosong. Cuma lihat-lihat aja XD. Sekali aku pernah membuka buku khusus ujian masuk perguruan tinggi di Jepang, kalau di sini disebutnya “Jigoku Jikeng” atau “Ujian Neraka”, dan memang benar sekali penggambarannya bahwa ujian ini beneran neraka. Aku buka soal-soal matematika, karena emang bisa tahu inti pertanyaanya tanpa membaca kanji-nya. Mengerikan sekali, baik dari jenis soalnya yang sangat sulit untuk dikerjakan, maupun jumlah soalnya yang sangat-sangat banyak. Dari situ aku sadar kalau standard kualitas pendidikan di Jepang, khususnya untuk pelajaran Matematika itu benar-benar jauh berbeda dengan di Indonesia.

Rahasia Pendidikan Matematika Anak di Jepang
Rahasia Pendidikan Matematika Anak di Jepang

Oleh karena itu ketika kemarin temanku bercerita mengenai anaknya yang baru masuk Sekolah Dasar (SD) di Jepang, aku jadi tertarik untuk menceritakan ulang dan membahasnya di sini.

 

Pendidikan Matematika Anak di Jepang

Pertama kali tiba di Jepang, temanku optimis walaupun anaknya tidak mengerti bahasa Jepang, tetapi pasti bisa mengikuti pelajaran matematika dengan lancar. Salah satu alasannya ialah karena anaknya sudah belajar matematika sejak TK saat di Indonesia. Anaknya itu sudah bisa mengerjakan soal penjumlahan susun dan pengurangan susun, level matematika yang cukup tinggi untuk seorang anak yang baru masuk SD.

Ternyata ketika pertama kali datang ke SD kelas 1 di Jepang, dia kaget bukan main. Anak yang dianggap sudah lancar penjumlahan dan pengurangan susun itu tidak berdaya di kelas. Bukan karena soal matematika yang sulit, tetapi ternyata justeru karena soalnya terlalu mudah.

Loh soal mudah kok malah tidak bisa? Jadi begini ceritanya:

Soal yang diberikan guru pada anak SD di Jepang ialah operasi penjumlahan satu suku (0-10). Tetapi mereka tidak belajar logika dan langkah kerja, melainkan hanya hafalan penjumlahan. Yap! Hafalan penjumlahan 0-10. Jadi anak-anak disuruh menghafalkan 1+1, 1+2, 1+3, dst. Soal-soal yang diberikan oleh guru pada pelajaran matematika SD ini bukan agar anak menghitung melainkan agar anak menghafalkan hasilnya saja.

Oleh karena itulah waktu pengerjaan soal-soal yang mudah ini dibatasi sangat singkat, karena mudah sekali mendapatkan hasilnya kalau udah hafal kan? Batasan waktu yang singkat inilah yang menjadi masalah bagi anaknya temanku yang belajar matematika di Indonesia. Dia tertinggal dari semua teman di kelasnya bukan karena tidak pintar, tetapi memang metodenya sangat berbeda. Tentu saja gurunya memaklumi hal ini dan terus mendukung perkembangannya.

Soal-soal yang mudah untuk anak ini dikerjakan dan dilatih setiap harinya di kelas dan juga diberikan dalam bentuk pekerjaan rumah. Kemudian setelah mengerjakan, baik PR maupun di kelas, mereka diharuskan mengoreksi pekerjaan temannya menggunakan pensil (dengan warna lain). Selama belajar di kelas 1 hingga kelas 3 tidak ada soal yang sulit, yang memerlukan perhitungan yang sistematis, semuanya mudah dah sifatnya ialah hafalan.

Metode latihan soal-soal mudah yang dilakukan berulang-ulang ini dikenal dengan nama metode KUMON. Sebuah metode belajar matematika yang dibuat oleh Tohru Kumon, orang Jepang yang ingin membantu anaknya belajar matematika dengna mudah dan menyenangkan. Sekarang metode ini dikenal melalui lembaga bimbingan belajar KUMON yang tersebar di seluruh dunia.

Model pembelajaran ini jauh sekali berbeda dengna kurikulum pendidikan di Indonesia. Mungkin kalian mulai bertanya, kenapa anak kecil di Jepang tidak diajari berlogika dan berfikir logis? Salah satu alasannya ialah karena otak mereka belum mampu berfikir logis. Ini merupakan hasil penelitian psikologi perkembangan anak yang disebut Piaget’s Theory.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Anak di Jepang

 

Teori Piaget dalam Perkembangan Anak


Teori piaget ini berasal dari eksperiment Piaget yang sangat terkenal. Kalau kalian belum tahu, silahkan lihat di video Youtube ini:

Apa pendapatmu setelah menonton video tsb? Well.. Apparently we were stupid! XD

Inti dari teori ini ialah, anak kecil pada usia di bawah 7-8 tahun tidak memiliki kemampuan berlogika dan nalar. Mereka tak mampu membedakan kesalahan dari kebenaran, tidak mampu menyimpulkan dari sederetan fakta walaupun ini sangatlah sederhana. Pengecualian dari teori ini ialah, beberapa anak yang tergolong briliant bisa saja berlogika pada usia 6-7 tahun.

Nah.. Dulunya setelah membaca teori ini, aku pernah kepikiran

“Lohh.. Jadi mengajarkan anak usia di bawah 7-8 tahun tentang penjumlahan dan pengurangan itu sia-sia donk? Dijelaskan bagaimanapun mereka tidak akan mengerti? Karena perkembangan otak mereka memang belum sampai sana”.

Pertanyaan itu masih gentayangan di pikiranku sih, bahkan sampai sekarang. Jangan-jangan emang sia-sia?

Selagi pertanyaan itu masih bergentayangan di kepalaku, metode pendidikan anak SD di Jepang ini membuatku terkagum-kagum. Sebab logikanya sangat masuk akal dan realistis sekali. Tanpa menentang teori Piaget, mereka tetap menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak SD usia 7-8 tahun. Jadi begini cara pikirnya, kalau anak-anak usia kurang dari 8 tahun tidak dapat memahami penjumlahan, maka ajarkan saja mereka untuk menghafalkan penjumlahan!

Berbeda dari memahami, anak kecil sangat mudah sekali menghafalkan, itulah sebabanya mereka bisa dengan mudah mengingat kosa-kata baru dalam berbahasa. Logikanya sederhananya ialah, anak kecil itu seperti komputer yang processornya belum berfungsi tetapi harddisk-nya bisa diisi dengan banyak data. Memaksa untuk memproses informasi, tentu saja butuh usaha lebih (atau bahkan sia-sia), tetapi untuk mengisinya dengan data, tentu saja bisa dilakukan dengan mudah.

Hal itulah yang dilakukan di sekolah-sekolah di Jepang. Karena sia-sia mengajarkan mereka memproses informasi, maka mereka masukkan saja dulu data yang diperlukan selama masa usia kurang dari 8 tahun.

Data penjumlahan angka satuan yang sudah dilatih selama beberapa tahun itu akan tertanam di otak anak pada kelas 1-3 SD. Setelah itu data ini akan digunakan/ difungsikan ketika kelas 4 , karena saat itu mereka sudah masuk ke materi nalar dan logika. Dengan hafalan penjumlahan dari 1-10 yang sudah mereka lakukan sejak masuk SD, melakukan penjumlahan susun akan sangat mudah dan lancar.

Baca Juga: Kenapa Oleh-oleh di Jepang Harganya Mahal

Jadi tidak akan ada anak yang sangat tertinggal di kelasnya, karena kecepatan berhitung mereka didasarkan pada hafalan penjumlahan yang telah dilatih dengan kecepatan yang sama.

Jika kita bandingkan dengan mengajarkan anak-anak kelas 1, 2 dan 3 untuk belajar menghitung maka tidak semua anak akan mengerti. Hasilnya akan banyak anak yang tertinggal, karena memang proses perkembangan otaknya belum sampai pada tahapan berlogika. Hanya bintang kelas saja yang akan mampu menyerap perhitungan matematis dengan mudah. Ini pengalamanku juga ketika mengajari anak SD matematika, dan aku emang nyerah. XD

Yap! Begitulah rahasia pendidikan matematika anak di Jepang. Mungkin banyak yang akan betanya “Loh? Jadi selama ini sekolah di Indonesia salah donk? Anak TK yang diajarin menghitung itu juga semuanya sia-sia?”. Berdasarkan teori Piaget maka jawabannya jelas kalian tahu sendiri. Tetapi jika berkeyakinan kalau anak kalian adalah bintang kelas, (genius), maka silahkan saja tabrak teori Piaget dengan mengajarkan perhitungan pada mereka.

Thanks for reading.

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

9 thoughts on “Rahasia Pendidikan Matematika Anak di Jepang

  1. Apa lagi system di jepang lebih terorganisir pendidikannya
    jadi sesuai minat dan bakat anaknya
    kalo di indonesia, begitu bnyak sekali pelajarang yg harus di ingat
    dari SD-SMA tidak terfokuskan mana pelajaran yg benar benra jadi minat si anah, tiba di bangku kuliah pun jurusan yg di ambil lain lagi, alhasil belajar dari nol
    itu sulitnya

    1. Di Jepang juga banyak kok pelajaran yang harus dikuasai sebelum Kuliah.. Masih serupa model pendidikannya. Tapi… Orang tua di Jepang bisa menerima kalau anaknya memutuskan untuk tidak lanjut kuliah, masuk fakultas seni, ataupun langsung aja kerja kuli. Itu bedanya dengan di Indonesia. hehe

      1. Berarti macam di drama2 jepang ya, walaupun mereka jago olahraga atau ekskul tetep belajar keras ketika ujian, dan yg kuliah memang untuk orang2 yg niat belajar keras atau memang bener2 jenius

  2. emang bener pendidikan di Jepang emang sangat berbeda. Mereka juga dididik dari sejak kecil untuk belajar dan menulis, juga menggambar. Mereka juga diajarkan mempelajari seni dan mencintai seni dan budayanya. entah kenapa sepertinya anak-anak sudah lahir dilingkungan yang teratur..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *