Sang Pengadu Petir (CERPEN)

Posted on
Suatu sore dengan arsiran hujan dan kilatan petir. Mendelemon
sedang duduk termenung di sebelah kanan dari tangan kirinya, wajahnya
menghadap jendela yang terbuka dan matanya menatap ke langit. Matanya
yang bulat itu mengamati setiap lekuk-lekuk kegelapan awan. Seketika itu
pula petir besar menggelegar, Mendelemon dengan sigap mengambil pena
dan mulai menulis pada selembar kertas di hadapannya “Petir1= 300 Desibel”.
Tak sampai satu menit berselang kembali terdengar suara petir yang
memekakkan telinga, ini petir yang jauh lebih dahyat, bahkan membuat
bumi seolah-olah berguncang. Mendelemon tak sempat menutup telinganya,
tangannya sibuk mencatat “Petir2 =800 Desibel” tertulis pada kertas
dihadapannya. Kemudian Mendelemon bergumam “Petir kedua yang menjadi
pemenangnya!”. TAMAT


Iya, karena cerpen itu pendek, memiliki alur, dan terdapat penyelesaian konflik, maka ini termasuk cerpen. Terserahku lahh. 😛

4 thoughts on “Sang Pengadu Petir (CERPEN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.