Muhammad Syarif Hidayatullah
Muhammad Syarif Hidayatullah

Terinspirasi Masuk Kuliah dari Membaca Mystupidtheory [Sharing dari Pembaca]

Posted on

Sebelumnya, terima kasih saya sampaikan kepada Mas Mahfuzh yang mengizinkan tulisan saya ini numpang di mystupidtheory.com.

Namaku Syarif, Muhammad Syarif Hidayah. Di sini, aku mau berbagi secuil cerita tentang perjuanganku masuk universitas. Apa hubungannya dengan Myst? Baca saja deh….

Setahun yang lalu, Aku adalah salah seorang siswa jurusan otomotif dari SMK terbaik di kabupaten tempatku tinggal, Klaten. Secara umum, anak SMK biasanya memilih bekerja daripada kuliah seusai lulus. Prosentase yang akan kuliah kurang dari 30% dari jumlah siswa satu angkatan. Aku termasuk di dalamnya. Bukan karena ingin kuliah, namun karena aku belum siap bekerja. Berbicara bahwa bersekolah untuk bekerja merupakan hal yang memalukan bagiku. Rasanya aneh saja menuntut ilmu untuk mencari uang.

Alasanku masuk SMK dulu bukan untuk segera kerja, tetapi karena diajak teman. Aku jalani hidup bagikan air mengalir. Tanpa tujuan yang jelas, tanpa cita-cita.

Di tahun terakhirku di sekolah, Aku PKL (Praktik Kerja Lapangan) di bengkel mobil di daerah Purwokerto. Di bengkel, ada banyak waktu luang yang biasa aku gunakan untuk streaming YouTube.

Suatu hari, secara tidak sengaja aku melihat FET (Flat Earth Theory) dan bodohnya aku terpengaruh. Bumi datar kemudian menjadi perbincangan di antara aku dan beberapa ‘ashabul bengkel‘. Singkatnya, dalam mencari pembuktian, aku berjumpa dengan blog Myst. Aku mendapat pencerahan di sana, mulai dari bantahan FET sampai ide-ide pagi.

Di Myst, sains terasa menyenangkan dan asyik untuk dipelajari. Walaupun penulisnya, yang menginspirasiku, adalah seorang kimiawan, namun aku pribadi lebih tertarik pada fisika. Moment itu, aku menemukan cita-citaku. Berkuliah!

Selesai PKL aku memutuskan ingin kuliah di Fisika UGM. Orang tua setuju-setuju saja. Ayah sering memberiku kebebasan menentukan pilihan sendiri. Kata ayah, aku yang akan menjalaninya. Mereka hanya berpesan kalau bisa mencari beasiswa.

Pertama-tama SNMPTN aku coba. Mudah ditebak, gagal! Memang untuk ukuran SMK, masuk PTN ternama lewat SNMPTN bagaikan mitos. Bahkan ada perguruan tinggi yang tidak menyediakan pendaftaran lewat SNMPTN bagi SMK. Ditolak sebelum melamar, dilepeh sebelum masuk mulut, bayangkan!

Berikutnya aku coba Jalur Prestasi untuk diploma maupun sarjana, namun tidak sampai kelar proses pendaftarannya. Sebab aku kesulitan mendapatkan konversi nilai rapor.

Kurikulum dan kebijakan yang berubah-ubah membuat pegawai kurikulum sibuk dan kerepotan. Terbaca dari beberapa kata-katanya yang pedas seolah mencegahku mendafar kuliah sewaktu minta dibuatkan konversi nilai rapor. Kata-kata yang masih aku simpan: “SMK kok kuliah, Mas. Nek kuliah nak yo wingi mlebu SMA wae (kalau mau kuliah harusnya kemarin masuk SMA saja).”

Beberapa guru sekalipun berpendapat kalau anak SMK itu harusnya kerja. Walaupun tidak sedikit yang menyemangati supaya kuliah. Karena aku adalah tipe orang yang tidak suka merepotkan orang lain, Jalur Prestasi akhirnya aku skip.

Lalu aku mendaftar SBMPTN. Dengan pilihan yang hampir sama seperti SNMPTN: 1. Teknik Mesin UGM, 2. Fisika UGM, dan Pendidikan Teknik Otomotif UNY. Pilihan pertama Teknik Mesin agar tidak terkesan mengkhianati jurusan sewaktu SMK, kalau-kalau ada yang bertanya. Meskipun dalam hati dan dalam doa pilihan kedua yang aku inginkan.

Selanjutnya aku ikut bimbingan persiapan kuliah dari sekolah. Materi SBMPTN tentu jauh di atas materi yang didapat anak SMK. Quote Abraham Lincoln tentang kapak, waktu, dan pohon, yang aku dapat dari penulis Myst aku rasa tidak bisa digunakan. Apalagi setahun sewaktu PKL aku tidak membuka buku pelajaran sama sekali. Belajar Saintek SBMPTN bagaikan memakan mie ayam satu mangkuk dalam sekali telan.

Paham sih, waktu soal dibahas di kelas. Namun lupa saat mengerjakannya sendiri. Pelajaran yang didapat dari bimbingan ini adalah “mestinya aku mulai belajar lebih awal”.

Akhirnya waktu ujian yang ditunggu-tunggu telah tiba. Menyadari materi yang aku kuasai sangat sedikit, aku teringat quotenya Mas Mahfuzh dalam idepagi, “Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.” Aku rasa saat itu adalah saat yang tepat untuk menerapkannya.


Soal ujian pertama, Tes Potensi Akademik (TPA) hampir 85% aku kerjakan, Bahasa Indonesia semuanya aku kerjakan namun tidak ada yang yakin benar, Bahasa Inggris 7 soal aku kerjakan, Matematika Dasar 2 soal aku kerjakan tapi ngasal. Aku cukup yakin dengan jawaban soal TPA karena aku sudah belajar TPA untuk USM PKN STAN yang aku rasa lebih rumit.

Ujian kedua Saintek, oh ya, aku duduk tepat di depan meja pengawas ujian. Kondisi ini semakin mendorongku untuk bertaruh. Sebab ‘pekewuh’ rasanya jika LJK dikumpulkan dalam kondisi bersih. Sejujurnya tidak ada yang bisa aku kerjakan kecuali 2 soal kimia. Akhirnya taruhanku ada pada 60 soal Saintek.

Jika dari 10 soal 2 soal benar, maka akan impas. Jika memungkinkan terburuk semuanya salah, berarti aku harus mengorbankan 15 soal TPA-ku yang benar. Benar 4, salah -1, tidak dijawab 0. Aku tidak tahu bagaimana sistem penilaian SBMPTN untuk masuk jurusan tertentu apakah nilai tiap mapel harus sekian dan sekian.

Karena tak ada pilihan, Aku putuskan untuk mengisi semuanya secara ngasal. Daripada dibiarkan kosong. Paling tidak aku punya peluang. Toh kalau tidak diterima memang sudah sewajarnya. Kalaupun diterima di Pendidikan Otomotif tetap mesti disyukuri. Namun bila diterima, aku rasa ini bakalan mencetak sejarah.

Minggu-minggu berikutnya aku gunakan untuk persiapan Ujian Mandiri.

Beberapa waktu kemudian, saatnya pengumuman SBMPTN. Agak ragu untuk melihatnya. Namun aku meyakinkan diri sampai 50% plus satu keyakinan yang terkumpul. Aku yakin dengan doa yang aku panjatkan. Dan alhamdulillah, lolos Fisika UGM. Sore itu aku senang bukan main.

3 hari kemudian, pengumuman USM PKN STAN tiba. Aku tidak bisa mengakses karena bandwidth-nya penuh. Tetapi di hari yang sama teman SMP-ku menelpon. Mengatakan kalau aku lolos. Alhamdulillah, aku diterima di pilihan pertama, D-3 Akuntansi.

Aku mendaftar USM PKN STAN karena merasa kesulitan belajar soal SBMPTN. Sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benakku akan kuliah di sana. Sewaktu melihat soal-soal tahap pertama tahun lalu, aku rasa lebih fair belajar soal USM jika harus bersaing dengan anak SMA karena tidak perlu hafalan rumus dan tidak harus belajar biologi. Di sela-sela belajar SBMPTN itu aku belajar USM.

Alhamdulillah keduanya diterima. Agak sayang melepas Fisika UGM. Namun pilihan tetap pilihan. Dan hidup ini bukan tentang diri kita sendiri.

Sekarang, aku sedang menikmati liburan semester 1 yang hampir usai. Berharap bisa selesai serta mendapatkan ijazah diploma 3 kemudian melanjutkan D4 Khusus Akuntansi atau S1 Akuntansi.

NOTE from Mahfuzh : Owner Mys

Pertama-tama, Thanks banget udah mau baca blog ini!

Alhamdulillah ada cerita seperti ini, bikin aku senang banget. Awal mula aku nulis bantahan FET dulu juga karena ingin meluruskan pendapat sains yang keliru. Takutnya kalau pelajar pada ikut-ikutan berpendapat bahwa Hukum Newton, Einstein, dan berbagai temuan sains lainnya ialah konspirasi belaka, maka udah nggak akan ada lagi kemajuan sains di Indonesia.

Tapi semua tulisanku itu nggak akan ada artinya kalau nggak dibaca dan dipikirkan. Jadi orang-orang seperti kamu Syarif, sudah membuat usaha saya menulis tidak sia-sia. Saya senang sekali.

Walaupun di cerita kamu seolah-olah Myst punya andil besar dalam perubahan cerita hidupmu, sy tahu sebenarnya itu semua karena usahamu sendiri. Semoga cerita ini menjadi inspirasi buat banyak orang! Bahwasannya kita yang memulai perubahan itu! Sekecil-kecilnya! Sesederhana apapun!

Semoga perjalnaan kuliah lancar, berprestasi, membanggakan orang tua dan bermanfaat bagi sekitar. Keep the good work!

 

 

Mengaku-ngaku sebagai penulis sejak 2013, tak satupun buku yang berhasil dituliskan. Amatir Garis Keras!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *